Kisah

Umayyah bin Abi Al Salt: Penyair Tauhid yang Hampir Memeluk Islam

Redaksi
×

Umayyah bin Abi Al Salt: Penyair Tauhid yang Hampir Memeluk Islam

Sebarkan artikel ini
Umayyah bin Abi Al Salt
Ilustrasi Ai ChatGbt

Umayyah bin Abi Al Salt, penyair tauhid yang nyaris menggapai cahaya wahyu.

ANNAIRI.OR.ID – Sebelum Islam datang, Jazirah Arab telah mengenal sejumlah tokoh yang menolak penyembahan berhala dan tetap mempertahankan ajaran tauhid Nabi Ibrahim.

Salah satu tokoh paling terkenal adalah Umayyah bin Abi Al Salt (أمية بن أبي الصلت), seorang penyair besar dari Thaif yang dikenal luas karena syair-syairnya tentang keesaan Allah, hari kebangkitan, surga, neraka, hingga kisah para nabi terdahulu.

Keistimewaan inilah yang membuat namanya tetap dikenang dalam sejarah sastra Arab dan literatur Islam.

Kisah Umayyah bin Abi Al Salt menarik perhatian para ulama dan sejarawan karena ia hidup pada masa Rasulullah ﷺ, bahkan sempat bertemu dengan beliau.

Banyak riwayat menyebutkan bahwa ia mengetahui tanda-tanda datangnya nabi terakhir berdasarkan pengetahuannya terhadap kitab-kitab terdahulu.

Namun, meskipun syair-syairnya dipenuhi ajaran tauhid, ia tidak secara nyata memeluk Islam hingga akhir hidupnya. Rasulullah ﷺ sendiri pernah memuji kandungan syairnya, tetapi menjelaskan bahwa hati penyair tersebut tidak mengikuti kebenaran yang telah dikenalnya.

Artikel ini mengulas profil Umayyah bin Abi Al Salt, perjalanan hidupnya, kisah pertemuannya dengan Nabi Muhammad ﷺ, serta contoh syair yang terdapat dalam kitab Diwan Umayyah bin Abi Al Salt (ديوان أمية بن أبي الصلت) beserta terjemahannya.

Profil Umayyah bin Abi Al Salt, Penyair Hanif dari Thaif

Umayyah bin Abi Al Salt berasal dari kabilah Tsaqif yang bermukim di kota Thaif. Nama lengkapnya adalah Umayyah bin Abi Al Salt Abdullah bin Abi Rabi’ah Ats-Tsaqafi.

Dari jalur ibunya, ia masih memiliki hubungan dengan suku Quraisy sehingga dikenal luas di kalangan masyarakat Arab saat itu. Selain sebagai penyair, ia juga termasuk tokoh terkemuka yang memiliki kedudukan sosial tinggi di tengah kaumnya.

Berbeda dengan mayoritas penyair Jahiliyah yang mengangkat tema peperangan, kebanggaan suku, perempuan, atau minuman keras, Umayyah justru banyak menulis syair tentang ketuhanan. Ia menolak penyembahan berhala dan meyakini bahwa hanya ada satu Tuhan yang berhak disembah.

Karena itulah banyak sejarawan memasukkannya ke dalam kelompok hanif, yaitu orang-orang Arab yang masih mempertahankan ajaran tauhid Nabi Ibrahim sebelum datangnya Islam.

Keilmuan Umayyah juga terbilang luas. Ia sering melakukan perjalanan ke Syam dan Yaman untuk bertemu para rahib Nasrani maupun pendeta Yahudi.

Dari perjalanan tersebut ia mengenal kisah para nabi, hari kiamat, penciptaan alam semesta, hingga konsep surga dan neraka. Pengetahuan inilah yang kemudian banyak mewarnai syair-syairnya sehingga berbeda dari penyair Arab lainnya pada masa Jahiliyah.

Dalam berbagai kitab sejarah disebutkan bahwa Umayyah meyakini akan muncul seorang nabi terakhir di tanah Arab. Bahkan sebagian riwayat menggambarkan bahwa ia berharap dirinyalah yang akan menerima tugas kenabian tersebut.

Harapan inilah yang kelak menjadi salah satu sebab mengapa ia sulit menerima ketika wahyu justru turun kepada Nabi Muhammad ﷺ dari kalangan Bani Hasyim.

Keistimewaan syair Umayyah juga diakui Rasulullah ﷺ. Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah meminta sahabat Asy-Syarid bin Suwaid membacakan syair Umayyah hingga mencapai seratus bait.

Setelah mendengarnya, beliau bersabda bahwa hampir saja Umayyah masuk Islam melalui syair-syairnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa isi syairnya banyak mengandung kebenaran tentang tauhid dan hari akhir, meskipun penyairnya sendiri tidak sepenuhnya menerima risalah Islam.

Kisah Umayyah bin Abi Al Salt yang Mengetahui Tanda Kenabian

Kisah Umayyah bin Abi Al Salt menjadi salah satu cerita paling menarik dalam sejarah Islam. Berbagai riwayat menyebutkan bahwa sebelum Nabi Muhammad ﷺ diangkat menjadi rasul, Umayyah telah mempelajari berbagai kitab dan mendengar kabar mengenai akan diutusnya nabi terakhir di Jazirah Arab.

Ia bahkan pernah melantunkan syair yang menggambarkan harapannya akan hadir seorang utusan Allah yang membimbing manusia menuju kehidupan akhirat. Syair tersebut menunjukkan bahwa ia telah mengetahui konsep kenabian jauh sebelum dakwah Islam dimulai.

Ketika Nabi Muhammad ﷺ mulai berdakwah di Makkah, Umayyah sedang berada di Bahrain. Setelah kembali ke Thaif, ia mendengar kabar bahwa Muhammad bin Abdullah telah mengaku sebagai nabi. Mendengar berita itu, ia segera menuju Makkah untuk memastikan sendiri kebenaran yang selama ini ia nantikan.

Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa ketika bertemu Rasulullah ﷺ, Umayyah terlebih dahulu membacakan syair-syairnya. Setelah selesai, Rasulullah membalasnya dengan membaca permulaan Surah Yasin.

Mendengar lantunan ayat Al-Qur’an tersebut, Umayyah terdiam. Ia mengakui bahwa bacaan itu bukanlah perkataan manusia biasa dan memiliki keagungan yang berbeda dari syair mana pun.

Meski demikian, ia belum juga menyatakan keislamannya. Ia memilih kembali ke Thaif dengan alasan ingin mempertimbangkan semuanya secara lebih matang. Keputusan inilah yang kemudian menjadi titik balik perjalanan hidupnya.

Riwayat lain menceritakan bahwa setelah Perang Badar, Umayyah sempat berniat menemui Rasulullah ﷺ untuk masuk Islam.

Akan tetapi, di tengah perjalanan ia mengetahui bahwa beberapa kerabat dekatnya dari pihak Quraisy gugur dalam perang tersebut. Kesedihan dan fanatisme kesukuan kembali menguasai dirinya sehingga ia membatalkan niat tersebut dan kembali ke Thaif.

Banyak ulama menjelaskan bahwa penolakan Umayyah bukan disebabkan karena ia tidak mengetahui kebenaran Islam, melainkan karena faktor kebanggaan pribadi dan kedudukan sosial.

Ia merasa sulit menerima kenyataan bahwa nabi terakhir berasal dari Bani Hasyim, bukan dari dirinya ataupun kaumnya.

Syair Umayyah bin Abi Al Salt dalam Diwan Umayyah bin Abi Al Salt dan Maknanya

Salah satu alasan mengapa Umayyah bin Abi Al Salt dikenang dalam sejarah sastra Arab adalah karena syair-syairnya yang berbeda dari kebanyakan penyair Jahiliyah.

Apabila penyair lain banyak mengangkat tema peperangan, kebanggaan suku, atau kehidupan dunia, Umayyah justru lebih sering membahas kebesaran Allah, penciptaan langit dan bumi, hari kebangkitan, hingga balasan bagi manusia di akhirat.

Karena itu, para ulama sastra menilai bahwa karya-karyanya menjadi jembatan antara sastra Arab pra-Islam dengan nilai-nilai tauhid yang kemudian disempurnakan oleh Islam.

Kitab ديوان أمية بن أبي الصلت (Diwan Umayyah bin Abi Al Salt) memuat banyak syair yang menggambarkan keyakinannya terhadap keesaan Allah. Salah satu bait yang paling terkenal berbunyi:

الحمدُ للهِ ممسانا ومصبحَنا
بالخيرِ صبحَنا ربِّي ومسانا

Segala puji bagi Allah pada waktu petang dan pagi kami. Dengan segala kebaikan, Tuhanku mengawali pagi kami dan menutup petang kami.”

Bait tersebut memperlihatkan bahwa Umayyah memulai syairnya dengan memuji Allah sebagai satu-satunya Rabb yang mengatur kehidupan manusia.

Pilihan katanya menunjukkan pengakuan terhadap kekuasaan Allah dalam setiap pergantian waktu. Nilai tauhid seperti ini cukup jarang ditemukan pada penyair Arab Jahiliyah yang umumnya masih dipengaruhi tradisi penyembahan berhala.

Dalam bagian lain dari Diwan Umayyah bin Abi Al Salt terdapat syair yang menjelaskan penciptaan langit.

سبحانَ من رفعَ السماءَ بنى لها
عمدًا يُرى منها العيونُ ولا تُرى

“Mahasuci Allah yang meninggikan langit dan membangunnya dengan penyangga yang tidak terlihat oleh mata manusia.”

Syair tersebut menggambarkan kekaguman penyair terhadap ciptaan Allah. Meskipun menggunakan bahasa puitis, maknanya mengajak pembaca merenungkan kebesaran Sang Pencipta melalui alam semesta.

Tema seperti ini kemudian banyak ditemukan dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang mengajak manusia berpikir tentang penciptaan langit dan bumi.

Umayyah juga beberapa kali menyinggung kehidupan setelah kematian. Salah satu syairnya berbunyi:

وكلُّ ذي نعمةٍ يومًا سيتركُها
ويُصبحُ الناسُ نحوَ الحشرِ قد زُمِروا

“Setiap orang yang menikmati kenikmatan pasti akan meninggalkannya suatu hari nanti, lalu seluruh manusia digiring menuju hari dikumpulkannya mereka.”

Syair tersebut menunjukkan bahwa Umayyah meyakini adanya kehidupan setelah kematian dan hari pembalasan. Pandangan seperti ini diperoleh dari pengetahuannya terhadap ajaran para nabi terdahulu yang ia pelajari melalui perjalanan ke Syam dan wilayah lainnya.

Selain syair tentang tauhid, riwayat sejarah juga mencatat bait yang sering dikaitkan dengan penantiannya terhadap datangnya seorang nabi.

ألا رسولٌ لنا منّا فيخبرُنا
ما بعدَ غايتِنا من رأسِ مجرانا

“Tidakkah akan datang seorang utusan dari kalangan kami yang mengabarkan kepada kami tentang kehidupan setelah akhir perjalanan ini?”

Bait tersebut sering dikutip oleh para sejarawan sebagai bukti bahwa Umayyah bin Abi Al Salt telah lama menantikan datangnya nabi terakhir.

Ia mengetahui adanya kabar tersebut melalui informasi yang ia peroleh dari para ahli kitab. Akan tetapi, ketika Nabi Muhammad ﷺ benar-benar diutus sebagai rasul, harapan pribadinya untuk menjadi nabi membuatnya sulit menerima kenyataan tersebut.

Pada akhir hayatnya, Umayyah juga diriwayatkan mengucapkan syair yang menggambarkan penyesalan dan kesadaran akan dekatnya kematian.

لبيكَ لبيكَ
هأنذا لديكَ
لا مالَ يفديني
ولا عشيرةَ تُنجيني

“Aku memenuhi panggilan-Mu. Inilah aku berada di hadapan-Mu. Tidak ada harta yang dapat menebusku dan tidak ada keluarga yang mampu menyelamatkanku.”

Bait ini memperlihatkan kesadaran mendalam bahwa pada akhirnya manusia hanya akan kembali kepada Allah. Kekayaan, kedudukan, maupun hubungan keluarga tidak akan mampu memberikan pertolongan apabila seseorang datang tanpa membawa keimanan dan amal saleh.

Para ulama berbeda pendapat mengenai keadaan iman Umayyah pada akhir hidupnya. Sebagian menyatakan bahwa ia tetap meninggal dalam keadaan belum memeluk Islam.

Pendapat ini didukung oleh riwayat yang menjelaskan bahwa ia tidak pernah mengucapkan syahadat secara terang-terangan. Sementara itu, sebagian ulama lain menilai adanya kemungkinan ia telah condong kepada Islam menjelang wafat berdasarkan beberapa riwayat yang dinukil dalam kitab-kitab sejarah.

Namun, pendapat yang lebih masyhur menyebutkan bahwa ia mengetahui kebenaran risalah Nabi Muhammad ﷺ, tetapi tidak benar-benar mengikuti ajaran tersebut.

Hal yang menarik adalah Rasulullah ﷺ tidak mencela seluruh syair Umayyah. Dalam hadis riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa Nabi meminta sahabat Asy-Syarid bin Suwaid membacakan syair Umayyah hingga mencapai seratus bait. Setelah mendengarnya, beliau bersabda:

كَادَ يُسْلِمُ فِي شِعْرِهِ

“Hampir saja ia masuk Islam melalui syair-syairnya.”

Dalam riwayat lain disebutkan pula sabda Nabi ﷺ:

آمَنَ شِعْرُهُ وَكَفَرَ قَلْبُهُ

“Syairnya beriman, tetapi hatinya tidak beriman.”

Ungkapan tersebut menjadi pelajaran penting bahwa pengetahuan yang luas dan ucapan yang indah belum tentu diikuti dengan ketundukan hati kepada kebenaran.

Umayyah mampu menggambarkan tauhid dalam syairnya dengan sangat baik, tetapi hal itu tidak otomatis menjadikannya seorang mukmin.

Kisah Umayyah bin Abi Al Salt akhirnya menjadi salah satu pelajaran berharga dalam sejarah Islam. Ia dikenal sebagai penyair besar yang memiliki wawasan luas, memahami ajaran tauhid, serta mengetahui tanda-tanda kenabian.

Namun, pengetahuan saja tidak cukup apabila tidak disertai kerendahan hati untuk menerima kebenaran. Oleh karena itu, namanya selalu dikenang sebagai penyair yang sangat dekat dengan cahaya wahyu, tetapi tidak benar-benar melangkah masuk ke dalamnya.

Hingga kini, karya-karyanya yang dihimpun dalam Diwan Umayyah bin Abi Al Salt tetap menjadi rujukan penting bagi para peneliti sastra Arab klasik.

Selain memperlihatkan keindahan bahasa Arab pada masa Jahiliyah, syair-syair tersebut juga memberikan gambaran mengenai bagaimana sebagian masyarakat Arab telah mengenal konsep tauhid sebelum turunnya Al-Qur’an.

Inilah yang membuat sosok Umayyah bin Abi Al Salt terus menarik untuk dipelajari, baik dari sisi sejarah, sastra, maupun kajian keislaman. []