Iman adalah keyakinan yang kokoh kepada Allah SWT dan enam rukun iman yang menjadi dasar kehidupan seorang Muslim.
ANNAIRI.OR.ID – Pengertian iman merupakan pembahasan mendasar dalam ajaran Islam karena iman menjadi landasan bagi seluruh amal dan kehidupan seorang Muslim. Secara bahasa, iman berkaitan dengan makna membenarkan, mempercayai, dan memberikan keyakinan.
Sedangkan secara syariat, iman mencakup keyakinan kepada Allah SWT, para malaikat, kitab-kitab Allah, para rasul, hari akhir, serta qadar atau ketetapan Allah, baik yang dipandang baik maupun yang tidak disukai manusia.
Salah satu dalil paling lengkap untuk memahami pengertian iman adalah Hadis Jibril. Hadis ini diriwayatkan dari Umar bin Khattab RA dan terdapat dalam Shahih Muslim.
Dalam hadis tersebut, Malaikat Jibril datang dalam wujud seorang laki-laki, kemudian bertanya kepada Rasulullah SAW tentang Islam, iman, ihsan, dan tanda-tanda kiamat.
Setelah Jibril pergi, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa orang tersebut adalah Jibril yang datang untuk mengajarkan agama kepada para sahabat.
Hadis Jibril menjadi salah satu fondasi penting dalam memahami tiga dimensi utama agama: Islam sebagai ketundukan lahiriah, iman sebagai keyakinan, dan ihsan sebagai kualitas penghambaan yang mendalam.
Karena itu, pembahasan pengertian iman menurut Hadis Jibril tidak cukup hanya dengan menghafal enam rukun iman, tetapi juga perlu memahami hubungan antara keyakinan hati, ucapan, dan amal.
Pengertian Iman dalam Hadis Jibril dan Penjelasan Imam Nawawi
Dalam Hadis Jibril, Rasulullah SAW menjelaskan iman ketika ditanya oleh Malaikat Jibril:
قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِيمَانِ، قَالَ: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ: صَدَقْتَ
Artinya: “Jibril berkata, ‘Beritahukan kepadaku tentang iman.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Yaitu engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir, baik dan buruknya.’ Jibril berkata, ‘Engkau benar.’”
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dan merupakan salah satu hadis sahih yang menjadi dasar pembahasan rukun iman.
Dari hadis tersebut dapat dipahami bahwa pengertian iman memiliki enam pokok utama.
Pertama, iman kepada Allah SWT, yaitu meyakini keberadaan, keesaan, kesempurnaan, serta hak Allah untuk disembah.
Kedua, iman kepada malaikat, yakni meyakini bahwa mereka adalah makhluk Allah yang memiliki tugas-tugas tertentu dan senantiasa menaati perintah-Nya.
Ketiga, iman kepada kitab-kitab Allah, termasuk Al-Qur’an sebagai wahyu terakhir yang menjadi petunjuk bagi manusia.
Keempat, iman kepada para rasul, yaitu meyakini bahwa Allah mengutus para nabi dan rasul untuk menyampaikan petunjuk kepada umat manusia.
Kelima, iman kepada hari akhir, meliputi keyakinan terhadap kebangkitan, perhitungan amal, balasan, surga, dan neraka.
Keenam, iman kepada qadar, yaitu meyakini ketetapan Allah dengan tetap memahami bahwa manusia diperintahkan untuk berusaha, memilih ketaatan, dan bertanggung jawab atas perbuatannya.
Imam Nawawi, ketika menjelaskan Hadis Jibril dalam Syarah Shahih Muslim, memberikan perhatian pada perbedaan penggunaan istilah iman dan Islam.
Dalam konteks ketika kedua istilah disebut secara bersamaan, keduanya dapat menunjukkan aspek yang berbeda. Islam lebih berkaitan dengan ketundukan dan amal lahir, sedangkan iman menunjuk pada keyakinan batin.
Namun, apabila salah satu istilah disebut secara sendiri, cakupannya dapat menjadi lebih luas dan mencakup keseluruhan ajaran agama.
Hal ini dapat dipahami dari firman Allah SWT dalam Surah Al-Hujurat ayat 14:
قَالَتِ ٱلْأَعْرَابُ ءَامَنَّا ۖ قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا۟ وَلَٰكِن قُولُوٓا۟ أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ ٱلْإِيمَٰنُ فِي قُلُوبِكُمْ ۖ وَإِن تُطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ لَا يَلِتْكُم مِّنْ أَعْمَٰلِكُمْ شَيْـًٔا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Artinya: “Orang-orang Arab Badui berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah, ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, “Kami telah tunduk,” karena iman belum masuk ke dalam hatimu.’”
Ayat ini tidak berarti Islam dan iman selalu terpisah. Konteks ayat menunjukkan adanya perbedaan antara pengakuan iman secara batin dengan ketundukan lahiriah.
Para ulama menjelaskan bahwa ketika dua istilah tersebut disebut bersama, terdapat perbedaan penekanan makna. Sebaliknya, ketika hanya salah satunya disebut, istilah tersebut dapat mencakup dimensi agama secara keseluruhan.
Prinsip tersebut juga terlihat dalam pembahasan orang munafik. Allah SWT berfirman:
إِذَا جَآءَكَ ٱلْمُنَٰفِقُونَ قَالُواْ نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُۥ وَٱللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ لَكَٰذِبُونَ
Artinya: “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, ‘Kami bersaksi bahwa engkau benar-benar Rasul Allah.’ Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar Rasul-Nya dan Allah bersaksi bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta.” (QS. Al-Munafiqun: 1).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa ucapan yang tampak benar belum tentu mencerminkan keyakinan hati. Karena itu, hakikat iman tidak cukup berupa klaim lisan. Iman berkaitan dengan pembenaran yang benar dan memiliki konsekuensi dalam kehidupan seorang Muslim.
Pembahasan ini juga membantu menjelaskan hubungan iman dengan amal. Dalam Al-Qur’an, kata iman terkadang digunakan dalam konteks yang mencakup amal atau praktik keagamaan. Contohnya adalah firman Allah SWT:
وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَٰنَكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِٱلنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ
Artinya: “Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 143).
Dalam konteks ayat tersebut, para ulama tafsir menjelaskan bahwa kata iman berkaitan dengan salat kaum Muslim yang sebelumnya menghadap Baitul Maqdis. Dengan demikian, ayat ini menjadi salah satu contoh penggunaan istilah iman yang berkaitan dengan amal ibadah.
Adapun Surah Asy-Syura ayat 52 menyebut iman dalam konteks wahyu dan petunjuk:
وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ رُوحًۭا مِّنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنتَ تَدْرِى مَا ٱلْكِتَٰبُ وَلَا ٱلْإِيمَٰنُ وَلَٰكِن جَعَلْنَٰهُ نُورًۭا نَّهْدِى بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِىٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍۢ مُّسْتَقِيمٍۢ
Artinya: “Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al-Qur’an dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidak mengetahui apakah Kitab dan apakah iman itu, tetapi Kami menjadikannya cahaya yang dengannya Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (QS. Asy-Syura: 52).
Karena itu, tidak tepat menyamakan kata iman dalam setiap ayat Al-Qur’an secara otomatis dengan salat. Konteks QS. Al-Baqarah ayat 143 memang berkaitan dengan salat, sedangkan QS. Asy-Syura ayat 52 berbicara mengenai wahyu dan petunjuk yang diberikan Allah. Ketelitian terhadap konteks ayat menjadi bagian penting dalam memahami pengertian iman dalam Al-Qur’an.
Hadis Jibril juga mengajarkan bahwa iman tidak berdiri sendiri. Setelah menjelaskan iman, Rasulullah SAW menjelaskan Islam dan ihsan.
Ihsan adalah beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya; jika tidak mampu mencapai keadaan tersebut, seseorang menyadari bahwa Allah selalu melihatnya. Di akhir hadis, Rasulullah SAW bersabda:
فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ
Artinya: “Sesungguhnya dia adalah Jibril. Ia datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.”
Hadis ini menunjukkan keluasan makna agama. Islam, iman, dan ihsan merupakan bagian yang saling berhubungan. Seorang Muslim tidak cukup hanya memperbaiki penampilan lahiriah tanpa membangun keyakinan yang benar. Sebaliknya, keyakinan juga seharusnya melahirkan ketaatan dan akhlak yang baik.
Dengan demikian, pengertian iman menurut Hadis Jibril dapat diringkas sebagai keyakinan terhadap enam perkara pokok yang menjadi dasar akidah Islam, sekaligus keyakinan yang memiliki konsekuensi terhadap kehidupan.
Iman bukan sekadar istilah yang dihafalkan, tetapi keyakinan yang membimbing cara manusia memandang Allah, kehidupan, takdir, kematian, dan kehidupan akhirat.
Memahami iman dengan dasar Al-Qur’an dan hadis sahih juga membantu seorang Muslim menghindari pemahaman yang terlalu sempit.
Iman berkaitan dengan hati, tetapi memiliki hubungan erat dengan ucapan dan amal. Karena itu, semakin kuat iman seseorang, semestinya semakin baik pula ketundukan, ibadah, akhlak, dan tanggung jawabnya.
Hadis Jibril akhirnya memberikan kerangka yang sangat jelas: Islam mengajarkan ketundukan, iman membangun keyakinan, dan ihsan menyempurnakan kualitas penghambaan.
Ketiganya menjadi satu kesatuan yang mengantarkan seorang Muslim untuk menjalani agama berdasarkan ilmu, keyakinan, amal, dan kesadaran bahwa seluruh kehidupan berada dalam pengawasan Allah SWT. []














