Banner Iklan
News

Kiai Sepuh NU Bicara Merdeka: Selama Petani Belum Berdaulat, Perjuangan Kita Belum Selesai!

Redaksi
×

Kiai Sepuh NU Bicara Merdeka: Selama Petani Belum Berdaulat, Perjuangan Kita Belum Selesai!

Sebarkan artikel ini
Kemerdekaan KH Ubaidullah Shodaqoh
KH Ubaidullah Shodaqoh/Foto: Tangkapan Layar NU Online

Merdeka itu bukan sekadar seremoni, tapi saat para petani dan rakyat kecil sudah berdaulat penuh di atas tanahnya sendiri.

ANNAIRI.OR.ID – Kemerdekaan Indonesia hari ini, yang memasuki usia ke-81 tahun, menjadi momentum untuk kembali memahami arti merdeka secara lebih mendalam.

Bagi KH Ubaidullah Shodaqoh, Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, kemerdekaan bukan sekadar perayaan, pengibaran bendera, atau seremoni tahunan.

Kemerdekaan juga berkaitan dengan tanggung jawab menjaga bangsa, ideologi Pancasila, kesejahteraan rakyat, hingga kedaulatan pangan.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Itqon Semarang yang akrab disapa Mbah Ubaid tersebut melihat kemerdekaan dari perspektif masyarakat akar rumput.

Menurutnya, nasionalisme tidak cukup hanya diwujudkan melalui simbol dan slogan kebangsaan. Kemerdekaan harus dirasakan secara nyata oleh seluruh rakyat, termasuk petani yang menjadi salah satu fondasi kehidupan bangsa.

Makna Kemerdekaan Menurut Kiai Ubaidullah Shodaqoh

Bagi Mbah Ubaid, menjaga Indonesia merupakan bagian dari amanah keagamaan. Ulama dan santri tidak hanya memiliki tanggung jawab dalam kehidupan keagamaan, tetapi juga memiliki peran dalam menjaga keberlangsungan bangsa dan negara.

Dalam sebuah amanat kebangsaan resmi PWNU Jateng, KH Ubaidullah Shodaqoh menegaskan:

“Sebagai seorang ulama, sebagai waratsatul anbiya bertanggung jawab memikul tanggung jawab kekhalifahan,” tutur KH Ubaidullah Shodaqoh pada sebuah amanat kebangsaan resmi PWNU Jateng.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kecintaan terhadap Indonesia bagi kalangan pesantren tidak berdiri sendiri. Menjaga agama, masyarakat, lingkungan, dan negara merupakan bagian dari amanah yang harus dijalankan secara bersama.

Dengan perspektif tersebut, kemerdekaan tidak berhenti pada terbebasnya bangsa dari penjajahan. Kemerdekaan juga berarti kemampuan rakyat menentukan masa depannya sendiri, memperoleh keadilan, serta menikmati hasil pembangunan secara layak.

Pancasila sebagai Fondasi Kehidupan Berbangsa

Selain berbicara tentang tanggung jawab kebangsaan, Mbah Ubaid juga menaruh perhatian terhadap pentingnya mempertahankan Pancasila sebagai konsensus nasional.

Di tengah munculnya berbagai gagasan dan ideologi yang dapat mengancam persatuan, ia mengingatkan masyarakat agar tetap berpegang pada Pancasila. Bagi dia, menjadi warga negara Indonesia berarti menjaga kesepakatan yang telah menjadi fondasi kehidupan bersama.

Dalam sebuah pesan kebangsaan, Kiai Ubaidullah Shodaqoh menegaskan:

“Minimal harus pancasilais, itu sudah meniru dengan baik. Ia adalah seorang Pancasila. Oleh karena itu, semua harus pancasilais dan tidak perlu macam-macam, aneh-aneh, atau model-model yang akhirnya tidak karuan. Bagaimanapun, Pancasila,” tegas Kiai Ubaidullah Shodaqoh saat mengingatkan pentingnya menjaga komitmen kebangsaan.

Pesan tersebut menegaskan posisi Pancasila sebagai titik temu masyarakat Indonesia yang memiliki latar belakang berbeda. Bagi warga Nahdlatul Ulama, menjaga persatuan nasional menjadi bagian penting dalam merawat kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kedaulatan Petani adalah Ukuran Kemerdekaan

Namun, perhatian Mbah Ubaid terhadap kemerdekaan tidak berhenti pada persoalan ideologi. Salah satu gagasan penting yang terus ia dorong adalah kedaulatan petani dan kemandirian pangan.

Menurutnya, kemerdekaan sebuah negara juga dapat dilihat dari kemampuan negara memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya sendiri.

Jika petani masih berada dalam posisi lemah, sementara kebutuhan pangan sangat bergantung pada pihak lain, maka perjuangan menuju kemerdekaan yang substantif masih belum selesai.

Pertanian karena itu harus ditempatkan sebagai sektor strategis. Petani tidak boleh hanya dipandang sebagai objek kebijakan, tetapi harus menjadi pelaku utama yang memiliki posisi tawar terhadap kebijakan, pasar, dan hasil produksinya.

Pandangan tersebut sejalan dengan perhatian NU terhadap penguatan ekonomi warga berbasis akar rumput. Kemandirian petani berarti memberikan ruang bagi petani untuk menentukan apa yang ditanam, bagaimana mengelola produksi, serta bagaimana memperoleh nilai ekonomi yang adil dari hasil pertanian.

Dalam konteks perjuangan ekonomi warga NU, KH Ubaidullah Shodaqoh menyampaikan:

“Sehingga roadmap pembangunan NU itu, pertanian merupakan salah satu prioritas yang dikedepankan,” jelas KH Ubaidullah Shodaqoh saat menegaskan arah perjuangan ekonomi warga.

Ia juga menekankan pentingnya petani memiliki kendali atas pangan dan hasil produksinya sendiri, termasuk “dalam menentukan pangan dan hasil produksinya sendiri.”

Kemerdekaan Harus Dirasakan Petani

Pandangan Mbah Ubaid memberikan perspektif bahwa kemerdekaan memiliki dimensi ekonomi yang sangat nyata. Negara yang merdeka bukan hanya negara yang memiliki kedaulatan politik, tetapi juga negara yang mampu menjaga kebutuhan dasar rakyatnya.

Dalam konteks Indonesia, petani memiliki posisi penting karena berkaitan langsung dengan ketahanan dan kedaulatan pangan. Ketika petani memperoleh akses terhadap sumber daya, memiliki posisi tawar yang kuat, serta mendapatkan manfaat yang adil dari hasil produksinya, maka kemerdekaan menjadi sesuatu yang lebih konkret.

Karena itu, peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Indonesia dapat menjadi momentum untuk melihat kembali persoalan pertanian. Kemerdekaan seharusnya tidak hanya dirayakan dengan upacara dan perlombaan, tetapi juga dengan memastikan petani tidak kehilangan daya tawar di negeri sendiri.

Bagi KH Ubaidullah Shodaqoh, nasionalisme pada akhirnya harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Menjaga Pancasila, merawat persatuan, memperkuat ekonomi rakyat, dan membangun kedaulatan pangan merupakan bagian dari perjuangan kebangsaan.

Pesan tersebut menjadi relevan di tengah tantangan pertanian Indonesia hari ini. Sebab, selama petani belum benar-benar berdaulat atas tanah, produksi, pangan, dan hasil kerjanya, maka makna kemerdekaan masih perlu terus diperjuangkan.

Kemerdekaan, dalam pandangan Mbah Ubaid, bukan sekadar terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan adalah ketika rakyat mampu berdiri di atas kakinya sendiri dan menikmati keadilan serta kemakmuran di tanah airnya. []