Kisah

Kisah Pemuda dan Penggali Kubur: Ketika Penyesalan Membuka Pintu Ampunan

Redaksi
×

Kisah Pemuda dan Penggali Kubur: Ketika Penyesalan Membuka Pintu Ampunan

Sebarkan artikel ini
Kisah Pemuda Penggali Kubur
Ilustrasi Ai ChatGbt

ANNAIRI.OR.ID – Suatu hari, Umar bin Khattab RA datang menemui Rasulullah SAW dalam keadaan menangis.

Rasulullah bertanya,

“Apa yang membuatmu menangis, wahai Umar?”

Umar menjawab,

“Ya Rasulullah, di depan pintu ada seorang pemuda. Tangisannya membuat hatiku bergetar.”

Rasulullah pun meminta pemuda itu masuk. Beliau bertanya dengan lembut,

“Mengapa engkau menangis, wahai anak muda?”

Pemuda itu berkata dengan suara gemetar,

“Aku menangisi dosa-dosaku yang sangat banyak. Aku takut pada murka Allah.”

Rasulullah bertanya,

“Apakah engkau menyekutukan Allah?”

“Tidak, ya Rasulullah.”

“Apakah engkau membunuh seseorang?”

“Tidak.”

Rasulullah bersabda,

“Allah akan mengampunimu, walaupun dosamu sebesar tujuh langit, tujuh bumi, dan tujuh gunung.”

Namun pemuda itu menjawab,

“Dosaku lebih besar dari itu, ya Rasulullah.”

Rasulullah bertanya lagi,

“Mana yang lebih besar, dosamu atau Kursi Allah?”

“Dosaku lebih besar,” jawabnya dalam keputusasaan.

“Mana yang lebih besar, dosamu atau ‘Arsy Allah?”

“Dosaku lebih besar.”

Rasulullah kembali bertanya,

“Mana yang lebih besar, dosamu atau Allah?”

Saat itu pemuda itu tersentak. Ia berkata,

“Allah Mahabesar dan Mahaagung.”

Rasulullah pun bersabda,

“Tidak ada yang dapat mengampuni dosa besar kecuali Allah Yang Mahabesar.”

Kemudian beliau berkata,

“Ceritakan kepadaku, apa dosamu?”

Pemuda itu sangat malu. Namun setelah didesak, ia berkata,

“Ya Rasulullah… sejak usia tujuh tahun aku bekerja menggali kuburan. Suatu hari seorang budak perempuan dari kaum Anshar meninggal dunia. Aku menggali kuburnya. Setelah semua orang pergi, aku kembali dan mengambil kain kafannya.

Saat aku melangkah pergi, setan menggoda pikiranku. Aku kembali… dan melakukan perbuatan yang sangat keji terhadap jenazah itu.

Belum jauh aku melangkah, aku seperti mendengar teguran keras. Seolah-olah perempuan itu berkata, ‘Celaka engkau! Tidakkah engkau malu kepada Allah Yang Mahaadil? Engkau meninggalkanku dalam keadaan terhina, lalu engkau akan berdiri di hadapan Allah dalam keadaan membawa dosa ini?’”

Pemuda itu menangis tersedu-sedu.

Mendengar pengakuan tersebut, Rasulullah sangat terkejut. Beliau berpaling darinya dan berkata dengan tegas,

“Wahai anak fasik! Menjauhlah dariku!”

Pemuda itu pun pergi dalam keadaan hancur hatinya. Namun ia tidak berputus asa. Ia benar-benar bertobat kepada Allah. Selama 40 malam ia beribadah, menangis, dan memohon ampun tanpa henti.

Setelah 40 malam, ia menengadahkan wajahnya ke langit dan berdoa,

“Ya Allah, Tuhan Muhammad, Tuhan Adam, Tuhan Ibrahim… jika Engkau telah mengampuniku, maka sampaikanlah kepada Nabi-Mu dan para sahabatnya. Jika tidak, turunkanlah azab kepadaku di dunia. Bakar aku dengan api-Mu. Tetapi selamatkan aku dari azab akhirat.”

Tak lama kemudian, Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah SAW dan berkata,

“Wahai Muhammad, Tuhanmu menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: ‘Apakah engkau yang menciptakan manusia?’”

Rasulullah menjawab,

“Bukan. Allah-lah yang menciptakanku dan mereka, serta memberi rezeki kepadaku dan kepada mereka.”

Jibril berkata,

“Sesungguhnya Allah telah mengampuni pemuda itu.”

Rasulullah pun segera memanggil pemuda tersebut dan menyampaikan kabar gembira:

“Bergembiralah. Allah telah menerima tobatmu dan mengampunimu.”

Pemuda itu pun menangis kali ini bukan karena takut, tetapi karena syukur. [Mukasyafatul Qulub, Imam Ghazali].