Tak ada dosa yang lebih besar daripada rahmat Allah.
ANNAIRI.OR.ID – Pada zaman Nabi Musa As, ada seorang laki-laki yang hidupnya penuh dosa.
Ia sebenarnya ingin bertobat. Berkali-kali ia menyesal dan berjanji akan berubah. Namun setiap kali bertobat, ia kembali terjatuh dalam kesalahan yang sama.
Hal itu berlangsung bukan sehari dua hari, tetapi dua puluh tahun.
Akhirnya Allah mewahyukan kepada Nabi Musa As.
“Sampaikan kepada hamba-Ku si Fulan bahwa Aku murka kepadanya.”
Nabi Musa pun menyampaikan pesan itu kepada lelaki tersebut.
Mendengar kabar itu, hati lelaki itu hancur. Ia tidak membantah. Tidak marah. Tidak pula menyalahkan siapa pun.
Ia pergi sendirian ke tengah padang pasir. Di sana, dalam kesunyian, ia mengangkat wajahnya ke langit dan berkata dengan penuh kepasrahan:
“Ya Tuhanku… apakah rahmat-Mu telah habis?
Ataukah dosa-dosaku telah merugikan-Mu?
Apakah Engkau menjadi kikir kepada hamba-hamba-Mu?
Adakah dosa yang lebih besar dari ampunan-Mu?
Bukankah kemurahan adalah sifat-Mu yang kekal?
Sedangkan kehinaan dan dosa adalah sifatku yang baru dan lemah ini.
Apakah sifatku yang hina ini bisa mengalahkan sifat-Mu yang Maha Pengasih?
Jika Engkau menutup pintu rahmat-Mu, kepada siapa lagi hamba-hamba-Mu berharap?
Jika Engkau mengusir mereka, ke mana lagi mereka harus kembali?”
Ia menangis dan melanjutkan,
“Ya Allah… jika memang rahmat-Mu telah habis untukku, maka aku pantas menerima siksa.
Tetapi sampaikanlah kepada seluruh hamba-Mu bahwa aku rela menanggungnya, agar mereka selamat.”
Doa itu lahir dari hati yang benar-benar hancur dan pasrah.
Tak lama kemudian, Allah kembali berfirman kepada Nabi Musa As,
“Wahai Musa, temuilah dia dan katakan:
Sekalipun dosa-dosamu memenuhi bumi, Aku akan mengampunimu, setelah engkau benar-benar mengenal kesempurnaan kekuasaan-Ku, ampunan-Ku, dan rahmat-Ku.” [Mukasyafatul Qulub, Imam Ghazali]
Pesan dan hikmah:
Kisah ini mengajarkan bahwa tidak ada dosa yang lebih besar daripada rahmat Allah SWT. Seburuk apa pun masa lalu seseorang, pintu ampunan tidak pernah tertutup selama masih ada penyesalan yang tulus dan keinginan untuk kembali kepada-Nya.
Yang Allah kehendaki bukan sekadar ucapan tobat di lisan, melainkan hati yang benar-benar menyadari kelemahan diri, mengakui kebesaran-Nya, serta yakin bahwa kasih sayang dan ampunan-Nya meliputi segala sesuatu.
Karena itu, jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Selama napas masih berembus, kesempatan untuk memperbaiki diri selalu terbuka, dan harapan kepada Allah tidak boleh padam.













