Munajat Cinta 571 dan Sholawat Sukses MTQ Nasional XXXI di Balai Kota Semarang diwarnai tausyiah Gus Mus yang mengajak masyarakat menyadari setiap anugerah sebagai dasar untuk bersyukur.
ANNAIRI.OR.ID – Rasa syukur tidak cukup sekadar diucapkan, tetapi harus berangkat dari kesadaran bahwa setiap manusia telah menerima banyak anugerah dari Allah SWT.
Pesan tersebut disampaikan KH Mustofa Bisri atau Gus Mus saat memberikan Tausyiah Kebangsaan dalam acara Munajat Cinta 571 di Balai Kota Semarang, Jumat (14/8/2026) malam.
Dalam tausyiahnya, Gus Mus mengatakan salah satu alasan seseorang tidak bersyukur adalah karena tidak menyadari nikmat yang telah diterimanya. Padahal, berbagai anugerah tersebut hadir setiap saat dan melekat dalam kehidupan manusia.
“Bersyukur itu menghajatkan kesadaran bahwa mendapat anugerah,” kata Gus Mus.
Ia mencontohkan hal sederhana yang sering luput dari perhatian, yakni kemampuan manusia untuk bernapas. Aktivitas tersebut berlangsung setiap detik tanpa harus diminta atau diusahakan secara khusus.
“Hampir kita tidak pernah mensyukuri, kita bisa bernapas setiap saat, seolah-olah itu tidak nikmat yang besar,” ujarnya.
Menurut Gus Mus, kebiasaan menerima sesuatu secara terus-menerus membuat manusia cenderung menganggapnya sebagai hal biasa. Karena itu, rasa syukur membutuhkan kemampuan untuk berhenti sejenak dan menyadari bahwa apa yang dimiliki merupakan pemberian Tuhan.
Indonesia Juga Menjadi Anugerah
Gus Mus tidak hanya mengajak jamaah mensyukuri nikmat dalam kehidupan pribadi. Ia juga mengingatkan bahwa menjadi bagian dari bangsa Indonesia merupakan anugerah yang patut disyukuri.
Ia mengatakan, pengalamannya bepergian ke sejumlah negara justru membuat dirinya semakin merasakan berbagai kelebihan yang dimiliki Indonesia.
“Setiap datang ke negara maju itu saya teringat Indonesia, sebab saya merasakan betapa Allah itu memanjakan Indonesia dengan tanah air yang subur, manusianya yang ramah,” ungkapnya.
Kesuburan tanah dan keramahan masyarakat, menurut Gus Mus, merupakan dua hal yang sering dianggap biasa oleh masyarakat Indonesia. Padahal, kedua hal tersebut merupakan kekayaan yang tidak selalu ditemukan di negara lain.
Ia menyebut keramahan masyarakat Indonesia bahkan telah menjadi ciri yang dikenal oleh banyak orang.
“Itu tidak kita jumpai di negara lain, makanya bangsa Indonesia itu dikenal dengan bangsa yang tersenyum,” katanya.
Gus Mus kemudian menyinggung negara yang menurutnya sampai perlu melakukan pelatihan agar masyarakat terbiasa tersenyum. Sementara masyarakat Indonesia secara alami dikenal memiliki budaya ramah dan mudah tersenyum.
“Di Indonesia enggak pernah latihan, orang-orangnya ramah-ramah. Ini adalah anugerah Allah SWT,” tuturnya.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk memperluas rasa syukur. Tidak hanya mensyukuri kesehatan, keluarga, pekerjaan, maupun berbagai kebutuhan pribadi, tetapi juga menyadari nikmat hidup di Indonesia.
Agama dan Nurani Perlu Dijaga
Dalam kesempatan tersebut, Gus Mus juga mengingatkan jamaah untuk mensyukuri kesempatan menjadi manusia sekaligus menjadi orang yang beragama.
Menurut dia, manusia mendapatkan keistimewaan berupa kemampuan berpikir dan merasakan. Tidak hanya itu, manusia juga memiliki kemampuan menyampaikan pikiran dan perasaannya secara detail.
“Allah SWT menciptakan kita melebihi sebagian besar makhluk-makhluk-Nya. Diberi perasaan, pikiran dan kemampuan menyampaikan perasaan dan pikiran secara detail,” jelasnya.
Kemampuan tersebut, kata Gus Mus, semakin berkembang seiring bertambahnya pengetahuan seseorang. Orang yang memiliki banyak pengetahuan dan kosakata akan lebih mampu mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran maupun perasaannya.
Selain kemampuan berpikir dan merasa, manusia juga dianugerahi nurani. Bagi orang yang beragama, nurani tersebut menjadi salah satu potensi untuk mengarahkan dirinya kepada kebaikan.
“Orang beragama itu memiliki potensi baik, memiliki nurani yang hidup karena agamanya itu,” ujarnya.
Namun, Gus Mus mengingatkan agar nurani tidak dibiarkan begitu saja. Nurani yang tidak digunakan dan tidak dilatih untuk peka terhadap lingkungan lama-kelamaan dapat kehilangan kepekaannya.
“Kalau nurani dianggurkan atau dibiarkan tidak berfungsi, lama-lama kan mati rasa. Karena itu perlu kumpul-kumpul seperti ini agar nurani tidak mati,” katanya.
Ia menilai kegiatan keagamaan menjadi salah satu ruang untuk menjaga kehidupan nurani. Berkumpul, berdoa, bersholawat, mendengarkan nasihat, dan melakukan refleksi bersama dapat menjadi cara untuk kembali mengingat berbagai anugerah yang selama ini diterima.
Gus Mus kemudian mengajak jamaah membangun kesadaran untuk mensyukuri berbagai karunia tersebut.
“Ini harus kita syukuri. Alhamdulillah kita jadi manusia, alhamdulillah kita jadi Indonesia,” ucapnya.
Munajat Cinta 571 dan Persiapan MTQ Nasional
Munajat Cinta 571 digelar dalam rangkaian Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, Istighosah dan Sholawat Sukses MTQ Nasional XXXI.
Rangkaian kegiatan diawali dengan khataman Al-Qur’an dan Gema Khotmil Qur’an. Acara kemudian dilanjutkan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW, istighosah, sholawat, hingga Tausyiah Kebangsaan yang disampaikan Gus Mus.
Selain menjadi ruang untuk bermunajat dan memanjatkan doa, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian persiapan Kota Semarang menyambut pelaksanaan MTQ Nasional XXXI.
Dalam sambutannya, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menyampaikan bahwa pemerintah kota terus mematangkan berbagai persiapan untuk menyambut kedatangan peserta dan tamu MTQ Nasional.
Menurut Agustina, Kota Semarang harus mempersiapkan diri sebaik mungkin karena sekitar 8.000 orang akan hadir dalam rangkaian pelaksanaan MTQ Nasional.
“Kita harus siap menerima 8.000 orang yang akan hadir untuk melaksanakan MTQ. Kesiapan kita lakukan semaksimal mungkin, kita berdandan semaksimal mungkin,” ujar Agustina dalam sambutannya.
Ia menyampaikan, berbagai kegiatan yang dapat menambah semarak Kota Semarang juga terus digerakkan menjelang pelaksanaan agenda nasional tersebut.
Kehadiran ribuan peserta dan tamu diharapkan tidak hanya menyukseskan pelaksanaan MTQ Nasional dari sisi penyelenggaraan, tetapi juga memberi kesempatan bagi masyarakat Kota Semarang untuk mengenalkan potensi daerah.
Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi salah satu bagian yang diharapkan ikut mendapatkan manfaat. Para tamu dan peserta MTQ dapat menikmati beragam kuliner serta produk khas Kota Semarang selama berada di kota ini.
Dengan persiapan tersebut, MTQ Nasional XXXI diharapkan menjadi momentum syiar Al-Qur’an sekaligus memberikan dampak positif bagi perekonomian dan aktivitas masyarakat Kota Semarang.
Rangkaian Munajat Cinta 571 kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin KH Ubaidullah Shodaqoh. Doa bersama tersebut menjadi bagian dari ikhtiar dan ungkapan syukur agar seluruh persiapan hingga pelaksanaan MTQ Nasional XXXI dapat berlangsung lancar dan sukses. []














