Kisah

Kisah Budak dengan Tiga Syarat Kehidupan: Mengubah Hidup Tuannya Selamanya

Redaksi
×

Kisah Budak dengan Tiga Syarat Kehidupan: Mengubah Hidup Tuannya Selamanya

Sebarkan artikel ini
Kisah Budak dengan Tiga Syarat
Ilustrasi Ai ChaGbt

ANNAIRI.OR.ID – Dikisahkan, seorang lelaki membeli seorang budak. Setelah akad selesai, budak itu dengan tenang mengajukan tiga syarat kepada tuannya.

Ia berkata, “Wahai Tuanku, izinkan aku menyampaikan tiga permohonan. Pertama, jangan engkau menghalangiku menunaikan shalat wajib ketika waktunya tiba.

Kedua, pada siang hari engkau bebas memerintahku sesuai kebutuhan, namun pada malam hari jangan engkau memberiku pekerjaan.

Ketiga, berikan kepadaku satu kamar di rumah ini yang tidak dimasuki siapa pun selain diriku.

Sang tuan menerima syarat-syarat tersebut tanpa keberatan.

Ketika diminta memilih kamar, budak itu berkeliling hingga menemukan sebuah kamar yang rusak dan tampak tidak terurus. Ia justru memilih kamar tersebut.

Tuannya merasa heran dan bertanya, “Mengapa engkau memilih kamar yang rusak ini?

Budak itu menjawab dengan penuh keyakinan, “Wahai Tuanku, tidakkah engkau mengetahui bahwa sesuatu yang tampak rusak di sisi manusia bisa jadi justru bernilai indah di sisi Allah?

Sejak saat itu, budak tersebut menjalankan kewajibannya dengan penuh tanggung jawab. Pada siang hari ia bekerja dan melayani tuannya dengan baik, tanpa keluh kesah.

Namun ketika malam tiba, ia menyendiri di kamar pilihannya untuk beribadah. Ia memperpanjang sujudnya, bermunajat, dan merendahkan diri di hadapan Tuhannya.

Suatu malam, sang tuan berkeliling di sekitar rumahnya dan tiba di depan kamar budaknya. Ia terkejut melihat cahaya terang memancar dari kamar yang rusak itu.

Ketika ia mengintip, ia menyaksikan budaknya sedang bersujud, sementara di atas kepalanya tampak cahaya yang tergantung di antara langit dan bumi.

Dalam sujudnya, budak itu berdoa dengan suara lirih,  “Ya Allah, aku telah memenuhi hak tuanku pada siang hari dan melayaninya sebagaimana mestinya. Seandainya bukan karena kewajiban itu, tentu seluruh siang dan malamku akan kuhabiskan hanya untuk beribadah kepada-Mu. Maka ampunilah aku, wahai Tuhanku.”

Sang tuan menyaksikan peristiwa itu hingga waktu Subuh tiba. Cahaya tersebut perlahan menghilang dan kamar itu kembali seperti semula.

Keesokan malamnya, ia mengajak istrinya untuk melihat langsung kejadian tersebut. Mereka kembali mendapati budak itu dalam sujud panjang dengan cahaya yang sama menaunginya. Keduanya berdiri di depan pintu kamar sambil menangis hingga fajar menyingsing.

Pagi harinya, sang tuan memanggil budak itu dan berkata, “Mulai hari ini engkau merdeka karena Allah. Aku membebaskanmu agar engkau dapat mengisi siang dan malammu sepenuhnya untuk beribadah kepada Dzat yang selama ini engkau mohonkan ampunan-Nya.”

Mendengar itu, budak tersebut menengadahkan tangannya ke langit dan berkata, “Wahai Pemilik segala rahasia, kini rahasia itu telah tampak. Hidup ini tak lagi kuinginkan setelah rahasia itu tersebar.”

Kemudian ia berdoa, “Ya Allah, aku memohon kematian kepada-Mu.”

Tidak lama setelah itu, ia tersungkur dan wafat.

Demikianlah keadaan orang-orang saleh, para pencinta dan pendamba Tuhan: mereka mungkin tampak sederhana di mata manusia, tetapi memiliki kedudukan yang tinggi dan bercahaya di sisi-Nya. [Mukasyafatul Qulub, Imam Ghazali]