Banner Iklan
Kolom

Ironi Pertumbuhan Ekonomi 5,6 Persen: Pinjol Rp101 Triliun dan Gadai Rp153 Triliun Naik Tajam

Lukni Maulana
×

Ironi Pertumbuhan Ekonomi 5,6 Persen: Pinjol Rp101 Triliun dan Gadai Rp153 Triliun Naik Tajam

Sebarkan artikel ini
Pertumbuhan Ekonomi 5,6 Persen
Ilustrasi

Ironi Pertumbuhan Ekonomi 5,6 Persen: Konsumsi Rumah Tangga Diduga Ditopang Utang, Pinjol Tembus Rp101 Triliun

PERTUMBUHAN ekonomi Indonesia sebesar 5,6 persen disebut salah satunya ditopang oleh konsumsi rumah tangga. Namun di balik angka tersebut, muncul kekhawatiran bahwa kenaikan konsumsi masyarakat juga ikut dibiayai oleh utang.

Dalam perhitungan Produk Domestik Bruto (PDB), meningkatnya belanja masyarakat memang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi, kondisi itu belum tentu mencerminkan daya beli masyarakat yang benar-benar sehat.

Data terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan utang pinjaman online (pinjol) masyarakat Indonesia mencapai Rp101 triliun pada Maret 2026 atau tumbuh 26,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Di saat yang sama, pembiayaan industri pergadaian juga meningkat signifikan hingga mencapai Rp153,49 triliun.

Fenomena ini menjadi sinyal bahwa di tengah pertumbuhan ekonomi yang tinggi, sebagian masyarakat justru semakin bergantung pada utang dan gadai untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Secara industri, kondisi pinjol memang masih dinilai aman dengan tingkat wanprestasi 90 hari di angka 4,52 persen.

Namun dari sisi sosial-ekonomi, angka Rp101 triliun tersebut mencerminkan jutaan rumah tangga yang sedang menanggung beban pinjaman.

Jika diasumsikan terdapat 20 juta peminjam, maka rata-rata utang per orang mencapai sekitar Rp5 juta. Nominal itu mungkin terlihat kecil, tetapi cukup berat bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Pertumbuhan pinjol yang mencapai 26 persen juga jauh melampaui pertumbuhan kredit perbankan yang hanya sekitar 9 persen.

Hal ini menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap akses dana cepat semakin tinggi, sementara akses pembiayaan formal belum sepenuhnya mudah dijangkau.

Pinjol menjadi solusi instan bagi banyak warga, tetapi sekaligus menandakan adanya tekanan likuiditas dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika kebutuhan makan, kesehatan, hingga pendidikan harus dipenuhi dengan utang digital, maka kualitas pertumbuhan ekonomi patut dipertanyakan.

Kondisi serupa terlihat pada sektor pergadaian. Sebagian besar pembiayaan pergadaian berasal dari gadai barang untuk memperoleh uang tunai. Ini menunjukkan banyak masyarakat memanfaatkan aset pribadi demi memenuhi kebutuhan mendesak.

Sementara itu, pembiayaan modal ventura yang seharusnya mendukung sektor produktif justru menurun menjadi Rp16,57 triliun. Artinya, pembiayaan untuk pengembangan usaha dan inovasi masih lemah dibanding pembiayaan konsumtif.

Struktur ekonomi seperti ini dinilai berisiko dalam jangka panjang karena pertumbuhan lebih banyak ditopang konsumsi berbasis utang dibanding penguatan sektor produksi.

Pertumbuhan ekonomi 5,6 persen memang terlihat positif di atas kertas. Namun jika konsumsi rumah tangga meningkat karena utang pinjol dan masyarakat bertahan hidup lewat gadai, maka fondasi ekonomi rumah tangga sebenarnya semakin rapuh.

Tidak semua utang berarti buruk. Banyak masyarakat tetap memiliki itikad baik untuk membayar kewajibannya. Namun ketika pertumbuhan utang jauh lebih cepat dibanding kenaikan pendapatan, kondisi tersebut menjadi tanda adanya tekanan ekonomi yang serius.

Di balik angka pertumbuhan ekonomi, masih ada keluarga yang harus mencicil pinjaman, pekerja yang menutup kebutuhan dengan utang, hingga rumah tangga yang menggadaikan barang demi bertahan sampai akhir bulan.

Inilah ironi yang muncul: ekonomi tumbuh, tetapi rakyat semakin berutang. [Lukni Maulana]