Tulisan satire tentang usulan pembangunan dapur MBG di UGM ramai dibicarakan setelah menyinggung peran kampus, kritik dosen, hingga program pemerintah.
UNTUK Ibu Rektor UGM yang saya hormati, mohon maaf sebelumnya njeh. Saya ingin menyampaikan dukungan penuh agar UGM segera mendirikan Dapur MBG (Makan Bergizi Gratis) dengan skala besar dan semangat NKRI harga mati.
Dukungan ini setelah membaca berita di Tempo: “Sejumlah dosen Universitas Gadjah Mada Yogyakarta resah dengan pemerintah yang meminta perguruan tinggi membangun dapur makan bergizi gratis atau MBG. Mereka mendesak Rektor UGM Ova Emilia bersikap tegas menolak pembangunan dapur MBG di kampus.”
Oleh karena itu, jangan sampai Ibu terpengaruh oleh suara-suara sumbang dari sejumlah dosen tersebut.
Bahkan jika seluruh dosen, mahasiswa, peneliti, alumni, satpam, tukang kebun, atau siapa pun yang masih berpikir bahwa kampus seharusnya fokus pada pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat.
Itu cara pandang lama. Dunia sudah berubah. Kampus masa kini harus adaptif. Jika dulu universitas berlomba membangun laboratorium, kini saatnya berlomba membangun dapur.
Jika sejumlah dosen UGM mungkin resah karena pemerintah meminta perguruan tinggi ikut menyiapkan dapur MBG. Namun keresahan itu seharusnya dilihat sebagai tanda bahwa para dosen belum memahami revolusi ilmu pengetahuan terbaru.
Apa gunanya kampus punya fakultas teknik jika tidak bisa merancang cerobong asap dapur modern?
Apa gunanya fakultas ekonomi bila tidak mampu menghitung efisiensi satu sendok minyak goreng per seribu porsi?
Apa gunanya fakultas filsafat jika belum mampu menjawab pertanyaan mendasar: lebih hakiki mana, nasi hangat atau kebebasan berpikir?
Sebelumnya, Ketua BEM UGM terus mengkritik program ini. Tentu itu hak demokratis mahasiswa. Tetapi kita harus jujur, mahasiswa akan meningkat kadar kritisnya jika makan bergizi gratis dan bahkan mampu menaikan tinggi badan.
Begitu juga dengan tetangga kampus, Rektor UII menyuarakan penolakan kampus membangun dapur MBG. Ya silakan saja, itu kampus swasta. Namun UGM berbeda.
UGM kampus besar, kampus negara, kampus yang banyak alumninya menjadi presiden, menteri, wakil menteri, pejabat strategis, dan tokoh nasional. Sudah sewajarnya UGM tampil di garis depan. Jangan hanya unggul di ranking dunia, tapi tertinggal dalam kapasitas memasak massal.
Karena itu saya usul, jangan tanggung-tanggung. Jangan cuma satu dapur MBG untuk seluruh kampus. Itu terlalu kecil untuk nama sebesar UGM. Minimal setiap fakultas punya satu dapur sendiri. Kalau perlu setiap jurusan.
Bayangkan betapa hebatnya. Fakultas Kedokteran meneliti kandungan gizi telur rebus. Fakultas Teknik merancang alat pengaduk sayur otomatis berbasis AI.
Fakultas Psikologi meneliti trauma mahasiswa yang kehabisan ayam goreng. Fakultas Filsafat mengkaji makna eksistensial dari tempe bacem. Ini integrasi keilmuan yang belum pernah dicapai Harvard maupun Oxford.
Ada pula yang mengatakan proyek MBG rawan korupsi. Saya kira itu terlalu curiga. Di negeri ini kita harus berpikir positif. Kalau ada proyek besar dengan anggaran besar, tentu maksudnya juga besar.
Bahkan Badan Gizi Nasional (BGN) berkeinginan bentuk Lembaga Sertifikasi Dapur MBG dan itu sudah dijawab dosen UGM yang meminta harus independen dan teruji kompetensinya.
Hal ini patut diapresiasi, oleh karena itu saya setuju jika dosen-dosen UGM yang kritis dimasukkan ke dalam struktur lembaga tersebut. Biar mereka ikut rapat, menyusun SOP, menilai ketebalan omelet, dan mengaudit volume kuah sayur.
Dengan begitu energi intelektual mereka tersalurkan ke hal-hal produktif dan tidak habis untuk menulis artikel kritik yang mengganggu suasana sikap optimisnya Presiden Prabowo Subianto.
Ada juga yang bilang anggaran MBG mengurangi anggaran kebutuhan dasar seperti pendidikan. Ini logika yang terlalu sempit. Bukankah dapur di kampus juga pendidikan?
Mahasiswa belajar antre, belajar sabar, belajar menerima menu apa adanya, belajar manajemen logistik, bahkan belajar bahwa dalam hidup tidak semua orang mendapat paha atas. Itu pendidikan karakter yang sangat mahal nilainya.
Jika ada tudingan bahwa proyek MBG menopang kepentingan penguasa karena dikelola yayasan atau kelompok dekat kekuasaan, saya justru melihat itu sebagai bentuk efisiensi birokrasi.
Mengapa harus dikelola orang jauh jika yang dekat saja siap? Bukankah bangsa ini dibangun atas asas kekeluargaan? Kalau jaringan pertemanan dan kedekatan bisa mempercepat proyek, itu namanya inovasi sosial.
Pada akhirnya, memang benar kampus seharusnya menjaga nalar kritis, menjadi pusat riset, dan mengabdi kepada masyarakat. Tetapi kita juga harus realistis. Pikiran kritis tidak akan maksimal jika perut lapar.
Maka saya berharap Ibu Rektor tidak ragu. Bangunlah dapur MBG sebanyak-banyaknya. Jadikan UGM bukan hanya kampus kerakyatan, tetapi juga pusat unggulan ketahanan panci nasional.
Di zaman sekarang, perguruan tinggi terbaik bukan yang terbanyak publikasi ilmiahnya, melainkan yang terbanyak dapurnya. []














