Kisah

Hikayat Ikan Gabus Tungon dan Kura-Kura Bijaksana

Lukni Maulana
×

Hikayat Ikan Gabus Tungon dan Kura-Kura Bijaksana

Sebarkan artikel ini
gabus tungon
Ilustrasi Ai ChaGbt

Ketika ketakutan diwariskan, mahabbah kepada Allah membebaskan.

Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.

DENGAN nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kepada-Nya segala permulaan kembali, dan kepada-Nya pula segala kesudahan berpulang.

Maka tersebutlah suatu hikayat pada zaman ketika sungai-sungai masih jernih laksana cermin langit, hutan-hutan masih menyimpan rahasia, dan tiap-tiap makhluk memahami bahasa air serta angin.

Pada masa itu, hiduplah sekalian penghuni sungai dalam aturan yang telah ditentukan bagi masing-masing; yang besar tiada menindas yang kecil, dan yang kecil tiada mendengki kepada yang besar.

Adapun pada sebuah sungai yang panjang alirannya dan dalam lubuknya, hiduplah seekor ikan gabus yang besar tubuhnya, kukuh sisiknya, tajam penglihatannya, serta tenang gerak-geriknya. Nama yang diberikan kepadanya ialah Gabus Tungon.

Akan tetapi, kemasyhurannya bukanlah karena kekuatan ataupun kebijaksanaannya, melainkan oleh cerita-cerita yang beredar tentang dirinya.

Maka berkatalah sebagian penghuni sungai,

“Jangan sekali-kali engkau memakan Gabus Tungon, sebab barang siapa memakannya niscaya bala akan turun ke rumahnya.”

Dan berkatalah yang lain,

“Jangan engkau menangkapnya ketika fajar, sebab air akan murka dan sungai akan meminta korban.”

Lalu berkata pula yang lain,

“Sesungguhnya ikan itu bukan sekadar ikan. Ada penjaga gaib yang mengiringinya. Barang siapa mengusiknya, niscaya kutukan akan mengikuti anak cucunya.”

Demikianlah kata-kata itu berpindah dari mulut kepada mulut, dari telinga kepada telinga, hingga akhirnya diterima sebagai kebenaran, padahal tiada seorang pun mengetahui dari mana mula asalnya.

Maka segala penghuni sungai hidup dalam ketakutan terhadap seekor ikan yang bahkan belum pernah mereka kenali.

ADAPUN di tepi sungai itu hiduplah seekor kura-kura yang telah lanjut usianya. Tempurungnya dipenuhi lumut zaman, matanya jernih bagaikan embun pada pucuk daun, dan lisannya amat sedikit, tetapi tiap-tiap katanya mengandung hikmah.

Sekalian penghuni sungai memanggilnya Kura Bijaksana.

Bukanlah ia dihormati karena kekuatannya, melainkan karena kebeningan hatinya.

Pada suatu petang, ketika matahari mulai condong ke ufuk dan cahaya keemasannya jatuh di atas permukaan air, datanglah Gabus Tungon menemui sahabat lamanya itu.

Setelah memberi salam, berkatalah ia,

“Wahai sahabatku, telah sekian lama aku memikul nama yang bukan kubuat sendiri. Ke mana pun aku berenang, ketakutan berjalan lebih dahulu daripada diriku. Mengapa manusia lebih mempercayai cerita daripada kenyataan?”

Kura Bijaksana memandang arus sungai yang mengalir perlahan.

Sesaat lamanya ia diam.

Kemudian katanya,

“Wahai Gabus, air yang keruh tidak pernah melihat dasar sungai. Demikian pula hati yang dipenuhi ketakutan; ia tidak lagi mampu membedakan bayangan daripada hakikat.”

Gabus bertanya lagi,

“Apakah salahku sehingga aku dijadikan alamat segala bala?”

Kura tersenyum kecil.

“Tiada salahmu. Tetapi ketahuilah, ketakutan adalah ladang yang paling subur bagi tumbuhnya kekuasaan. Selama makhluk takut, selama itu pula akan ada mereka yang menjual rasa aman.”

Maka Gabus pun termenung.

Belum pernah ia mendengar perkataan yang demikian.

PADA saat yang sama, di balik rumpun pandan air, mengintailah seekor belut yang licik lagi fasih lidahnya.

Namanya Lindung.

Dialah yang paling diuntungkan oleh segala cerita tentang Gabus Tungon.

Setiap kali penghuni sungai merasa takut, kepadanyalah mereka datang meminta penawar.

Setiap kali mereka gelisah, kepadanyalah mereka membawa persembahan.

Dan setiap kali mereka hendak mengambil keputusan, perkataannyalah yang dijadikan pegangan.

Maka berkatalah Lindung dalam hatinya,

“Selama mereka takut kepada Gabus, selama itu pula mereka memerlukan aku.”

Lalu ia tersenyum.

Karena ia mengetahui suatu perkara yang sering dilupakan oleh banyak makhluk:

Ketakutan yang dipelihara lebih menguntungkan daripada kebenaran yang diketahui.

MAKA pada malam itu, ketika bulan menggantung di atas sungai dan segala makhluk mulai terlelap, Kura Bijaksana berkata kepada Gabus,

“Wahai sahabatku, engkau tidak akan mampu mematahkan seribu cerita hanya dengan seribu penjelasan.”

Gabus bertanya,

“Lalu apakah yang harus kulakukan?”

Jawab Kura,

“Dekatkanlah dirimu kepada Allah dengan cinta, bukan dengan amarah. Sebab hati yang dipenuhi mahabbah tidak lagi sibuk membela dirinya. Cahaya kebenaran akan berbicara lebih nyaring daripada lidahmu.”

Maka sejak malam itu bermulalah perjalanan Gabus Tungon, bukan untuk membersihkan namanya di hadapan makhluk, melainkan untuk membersihkan hatinya di hadapan Tuhan.

Dan dari perjalanan itulah akan terbuka rahasia bahwa kutukan yang paling membahayakan bukanlah seekor ikan, melainkan hati yang takut kepada selain Allah. []