Artikel

Man Jadda Wajada Ibnu Arabi: Jejak Pepatah من جد وجد dalam Bulghat al-Ghawwaṣ dan al-Futuḥat al-Makkiyyah

Lukni Maulana
×

Man Jadda Wajada Ibnu Arabi: Jejak Pepatah من جد وجد dalam Bulghat al-Ghawwaṣ dan al-Futuḥat al-Makkiyyah

Sebarkan artikel ini
Man Jadda Wajada dalam kitab Ibnu Arabi
Ilustrasi Ai ChatGbt

Menelusuri penggunaan pepatah Man Jadda Wajada dalam karya-karya Ibnu Arabi.

ANNAIRI.OR.ID – Apakah pepatah Man Jadda Wajada berasal dari Ibnu Arabi? Pertanyaan ini cukup sering muncul karena ungkapan Arab مَنْ جَدَّ وَجَدَ (man jadda wajada) ditemukan dalam beberapa karya yang dinisbatkan kepada Muḥyiddīn Ibnu Arabi (w. 638 H).

Sebagian orang bahkan mengira bahwa pepatah tersebut merupakan ciptaan beliau. Namun, benarkah demikian?

Secara filologis, keberadaan sebuah ungkapan dalam karya seorang ulama tidak serta-merta menunjukkan bahwa ulama tersebut adalah penciptanya. Yang dapat dipastikan adalah bahwa ia menggunakan ungkapan tersebut dalam konteks tertentu.

Oleh karena itu, untuk memahami bagaimana Ibnu Arabi memaknai pepatah مَنْ جَدَّ وَجَدَ, penting untuk melihat langsung redaksi Arab dan konteks pembahasannya dalam kitab-kitab beliau, bukan hanya mengutip pepatahnya secara terpisah.

Artikel ini mengulas penggunaan pepatah Man Jadda Wajada dalam dua karya yang dinisbatkan kepada Ibnu Arabi, yaitu بلغة الغواص في الأكوان إلى معدن الإخلاص في الإنسان dan الفتوحات المكية.

Melalui pembacaan terhadap konteks kedua kitab tersebut, dapat dipahami bagaimana Ibnu Arabi memanfaatkan pepatah ini, baik sebagai ungkapan yang telah hidup dalam tradisi lisan maupun sebagai bagian dari argumentasi tasawuf mengenai jalan menuju maqām-maqām spiritual.

Pepatah Arab مَنْ جَدَّ وَجَدَ (man jadda wajada) merupakan salah satu ungkapan hikmah yang paling populer di dunia Islam. Maknanya yang sederhana, yakni “barang siapa bersungguh-sungguh, maka ia akan memperoleh hasil“, menjadikan pepatah ini sering dijadikan motivasi dalam pendidikan, dakwah, maupun kehidupan sehari-hari.

Di balik popularitasnya, muncul pertanyaan menarik mengenai hubungan pepatah tersebut dengan tokoh sufi besar Muḥyiddīn Ibnu Arabi (w. 638 H). Apakah beliau pernah menggunakan ungkapan man jadda wajada dalam karya-karyanya?

Penelusuran terhadap literatur menunjukkan bahwa pepatah tersebut memang ditemukan dalam karya-karya yang dinisbatkan kepada Ibnu Arabi.

Salah satunya terdapat dalam kitab بلغة الغواص في الأكوان إلى معدن الإخلاص في الإنسان. Dalam kitab ini, man jadda wajada tidak disampaikan sebagai kalimat baru, melainkan sebagai pepatah yang telah dikenal luas di tengah masyarakat.

Redaksi yang digunakan ialah:

حتى لقد بلغني: أن بعض المتصوفة، سمع كثيراً على ألسنتهم أن من جد وجد، فقال: سأجرب نفسي في الجد بطلب الملك…

Artinya: “Bahkan telah sampai kepadaku bahwa salah seorang sufi sering mendengar dari lisan banyak orang bahwa ‘barang siapa bersungguh-sungguh, niscaya ia akan memperoleh hasil.’ Lalu ia berkata, ‘Aku akan menguji diriku dengan kesungguhan untuk memperoleh kerajaan….‘”

Ungkapan سمع كثيراً على ألسنتهم (sering mendengarnya dari lisan banyak orang) menunjukkan bahwa man jadda wajada telah hidup sebagai pepatah yang beredar di masyarakat.

Ibnu Arabi kemudian menggunakannya sebagai bagian dari sebuah kisah tentang seseorang yang ingin membuktikan kebenaran pepatah tersebut melalui kesungguhan dalam berusaha.

Dalam kisah itu diceritakan bagaimana tokoh tersebut memulai dari kedudukan yang rendah hingga akhirnya memperoleh posisi penting dalam pemerintahan.

Setelah mengisahkan keberhasilan tersebut, Ibnu Arabi mengaitkannya dengan firman Allah:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا

Melalui ayat ini, beliau mengarahkan pembaca kepada makna yang lebih tinggi. Jika kesungguhan mampu mengantarkan seseorang memperoleh keberhasilan dalam urusan dunia, maka kesungguhan dalam menempuh jalan menuju Allah tentu lebih layak lagi menghasilkan keberhasilan di akhirat.

Penggunaan pepatah yang lebih eksplisit terdapat dalam karya monumentalnya, الفتوحات المكية.

Berbeda dengan Bulghat al-Ghawwāṣ, di sini man jadda wajada tidak muncul sebagai pepatah yang dikutip dari masyarakat, melainkan menjadi bagian dari argumentasi Ibnu Arabi mengenai kemungkinan manusia mencapai berbagai maqām atau kedudukan spiritual.

Hal ini menunjukkan adanya perbedaan fungsi penggunaan pepatah tersebut. Dalam Bulghat al-Ghawwaṣ, man jadda wajada hadir sebagai hikmah yang telah dikenal dalam tradisi lisan.

Adapun dalam al-Futuḥat al-Makkiyyah, pepatah yang sama digunakan untuk memperkuat penjelasan teoretis mengenai perjalanan spiritual seorang salik menuju kedekatan dengan Allah.

Analisis Redaksi Arab Man Jadda Wajada dalam al-Futuḥat al-Makkiyyah

Dalam al-Futuḥat al-Makkiyyah, Ibnu Arabi menjelaskan bahwa jalan menuju maqām-maqām spiritual sesungguhnya terbuka bagi manusia.

Pembahasan tersebut muncul setelah beliau mengutip sabda Nabi bahwa manusia dapat mencapai tingkat penyaksian yang tinggi apabila berbagai penghalang dalam dirinya dihilangkan.

Beliau kemudian menulis:

فهذا قد أبان عن الطريق الموصلة إلى المقام الذي منه رأى ما رأى وسمع ما سمع، فهل يوجد من يزول عنه هذا المانع فيصل إلى هذا المقام أم لا؟ فنحن نقول بأنه يزول، فإن الله قد أمر أن يبين للناس ما نزل إليهم، وما أبان عن مانع عن رقي إلى مرتبة عليا إلا ليزال، ولا ذكر منزلة زلفى إلا لتنال، فمن جد وجد، ومن قصر فلا يلومن إلا نفسه.

Terjemahannya: “Dengan penjelasan ini telah diterangkan jalan yang mengantarkan kepada maqam yang darinya seseorang dapat melihat sebagaimana para nabi melihat dan mendengar sebagaimana mereka mendengar. Apakah mungkin penghalang itu dihilangkan sehingga seseorang sampai pada maqam tersebut? Kami mengatakan: ya, penghalang itu dapat dihilangkan. Sebab Allah telah memerintahkan agar apa yang diturunkan kepada manusia dijelaskan kepada mereka. Allah tidak menjelaskan adanya penghalang menuju derajat yang tinggi kecuali agar penghalang itu dapat disingkirkan. Dan tidaklah disebutkan suatu kedudukan yang dekat kepada Allah melainkan agar dapat diraih. Maka barang siapa bersungguh-sungguh, ia akan memperolehnya; dan barang siapa bermalas-malasan, janganlah ia menyalahkan selain dirinya sendiri.

Apabila dicermati secara filologis, ungkapan فمن جد وجد bukanlah kalimat yang berdiri sendiri, melainkan menjadi kesimpulan dari argumentasi yang dibangun sebelumnya. Ibnu Arabi menyusun penjelasannya secara bertahap.

Pertama, Allah memerintahkan agar wahyu dijelaskan kepada manusia.

فإن الله قد أمر أن يبين للناس ما نزل إليهم

Kedua, Allah menjelaskan berbagai penghalang menuju derajat yang tinggi agar penghalang tersebut dapat dihilangkan.

وما أبان عن مانع عن رقي إلى مرتبة عليا إلا ليزال

Ketiga, berbagai maqām kedekatan kepada Allah disebutkan bukan hanya untuk diketahui, tetapi agar dapat dicapai.

ولا ذكر منزلة زلفى إلا لتنال

Setelah tiga premis tersebut, Ibnu Arabi menyimpulkan:

فمن جد وجد، ومن قصر فلا يلومن إلا نفسه

Huruf فـ pada awal kalimat berfungsi sebagai fa’ at-tafrī‘, yaitu penanda kesimpulan atau konsekuensi logis dari uraian sebelumnya.

Maksudnya, karena Allah telah menjelaskan jalan menuju-Nya, menerangkan penghalang agar dapat disingkirkan, dan menyebutkan berbagai maqām agar dapat diraih.

Maka konsekuensinya adalah bahwa siapa saja yang bersungguh-sungguh dalam menempuh jalan tersebut akan mencapai tujuannya. Sebaliknya, orang yang tidak bersungguh-sungguh tidak memiliki alasan untuk menyalahkan selain dirinya sendiri.

Dari konteks ini tampak bahwa man jadda wajada menurut Ibnu Arabi tidak sekadar bermakna keberhasilan dalam urusan dunia, tetapi merupakan prinsip dasar dalam perjalanan spiritual.

Kesungguhan (al-jidd) dipahami sebagai mujahadah, ketekunan, dan istiqamah dalam menempuh jalan menuju Allah.

Dengan demikian, penggunaan pepatah فمن جد وجد dalam al-Futuḥat al-Makkiyyah bukan sekadar ungkapan motivasi, melainkan menjadi penegasan bahwa maqām-maqām spiritual yang disebutkan dalam syariat memang dapat dicapai oleh siapa pun yang bersungguh-sungguh menempuh jalan tersebut, sedangkan kelalaian menjadi sebab seseorang gagal meraihnya.

Penutup

Berdasarkan penelusuran terhadap kedua kitab tersebut, dapat disimpulkan bahwa Ibnu Arabi memang menggunakan pepatah مَنْ جَدَّ وَجَدَ, tetapi dalam konteks yang berbeda. Dalam بلغة الغواص في الأكوان إلى معدن الإخلاص في الإنسان, pepatah ini muncul sebagai ungkapan yang telah dikenal di tengah masyarakat dan dijadikan ilustrasi melalui sebuah kisah tentang pentingnya kesungguhan dalam mencapai tujuan.

Sementara itu, dalam الفتوحات المكية, ungkapan فمن جد وجد menjadi bagian dari argumentasi yang menegaskan bahwa jalan menuju maqām-maqām spiritual telah dijelaskan oleh Allah dan terbuka bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh menempuhnya.

Dengan demikian, penggunaan Man Jadda Wajada oleh Ibnu Arabi tidak dapat dipahami sekadar sebagai semboyan motivasi untuk meraih keberhasilan duniawi.

Dalam perspektif tasawuf yang beliau bangun, kesungguhan (al-jidd) merupakan prinsip fundamental dalam perjalanan seorang salik menuju Allah.

Kesungguhan itulah yang memungkinkan seseorang menyingkirkan berbagai penghalang, memperoleh limpahan ilmu-ilmu ilahiah, dan meraih kedudukan spiritual yang telah dijelaskan dalam wahyu.

Oleh karena itu, pembacaan terhadap konteks redaksi Arab dalam karya-karya Ibnu Arabi menunjukkan bahwa pepatah مَنْ جَدَّ وَجَدَ memiliki makna yang jauh lebih mendalam daripada sekadar “siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil“, melainkan menjadi penegasan bahwa setiap maqām ruhani dapat dicapai melalui mujahadah, ketekunan, dan istiqamah dalam menempuh jalan menuju Allah. []