Kolom

Tiyo “MBG” Ardianto: Ikan Busuk dari Kepalanya

Lukni Maulana
×

Tiyo “MBG” Ardianto: Ikan Busuk dari Kepalanya

Sebarkan artikel ini
tiyo ardianto
Tiyo Ardianto/Foto: Agus Budi Santoso

TIDAK semua orang nyaman dengan kritik. Apalagi kritik yang disampaikan secara terbuka, tajam, dan menyentuh isu yang sedang ramai diperbincangkan.

Saat tasyakuran pernikahan gelaran acara Mbah Ubaid Mantu saya mendapat amanah sebagai pembawa acara. Bukan sekadar tugas membacakan susunan acara, saya diberi hak otoritatif oleh Pak Muhammad Nur Ihsan untuk mengatur ritme panggung dan menentukan momentum yang tepat bagi siapa pun yang akan berbicara.

Di tengah acara yang berlangsung, beberapa pesan WhatsApp masuk kepada saya. Isinya hampir sama: agar Tiyo Ardianto diberi waktu untuk naik ke panggung.

Saya memahami maksud itu. Namun sebuah acara memiliki alurnya sendiri. Tidak semua permintaan bisa langsung dipenuhi tanpa mempertimbangkan suasana dan konteks yang sedang berlangsung. Karena itu saya menunggu momentum yang tepat.

Kesempatan itu datang ketika Kang Leak Sosiawan selesai membacakan puisi kritiknya. Pada saat yang sama sejumlah pejabat masih berada di lokasi acara, termasuk Wali Kota Semarang.

Saya menilai momen tersebut cukup ideal. Maka setelah Kang Leak turun dari panggung, saya mempersilakan Tiyo Ardianto untuk maju.

“Bahwa baru-baru ini saya kasih nama om-om saya ini penyair Tiyo MBG Ardianto,” ucap Tiyo.

Hadirin tertawa. Namun sebagaimana sering terjadi dalam kehidupan sosial, humor tidak selalu berhenti sebagai humor. Ia sering menjadi pintu masuk bagi pesan yang lebih serius.

Pernyataan itu terdengar ringan, tetapi memiliki konteks yang panjang. Selama beberapa bulan terakhir, Tiyo memang cukup aktif mengkritisi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Karena beberapa bulan terakhir kita agak kenceng, bicara soal MBG, saya sejak bulan februari mengatakan bahwa MBG ini Maling Berkedog Gizi. “Alhamdulillah Qadarullah, kepa BGN ditangkap oleh Kejasaan Agung,” imbuh Tiyo.

Beberapa waktu setelah itu, saya kembali menyimak Tiyo dalam program Bolar Liar Kompas TV Jumat (5/6) mengomentari Presiden RI, Prabowo Subianto, yang mengultimatum mitra MBG yang curang.

Pembahasannya berkaitan dengan dinamika yang berkembang setelah terungkapnya kasus di lingkungan Badan Gizi Nasional.

Di forum tersebut Tiyo mengatakan, “Saya kadang bingung, Pak Presiden ini adalah presiden atau motivator,” ucapnya.

“Sebelum Pak Dadan ditangkap, percakapan publik kita itu sebenarnya tidak hanya soal MBG, tapi soal bagaimana krisis itu mungkin akan terjadi. Soal dolar yang naik, soal bagaimana IHSG itu turun sedemikian rupa, tapi mendadak hilang ketika ditangkap,” lanjutnya.

Bagi saya, pernyataan tersebut menunjukkan satu hal yang cukup menarik. Tiyo tidak hanya berbicara tentang sebuah kebijakan, tetapi juga tentang bagaimana perhatian masyarakat bergerak. Ada isu yang menjadi pusat pembicaraan hari ini, lalu bergeser ke isu lain esok hari.

Karena itu, yang saya lihat dari Tiyo bukan sekadar seorang pengkritik kebijakan. Ia adalah pembaca gejala sosial yang mencoba menghubungkan satu peristiwa dengan peristiwa lain. Ketika banyak orang sibuk melihat sebuah kejadian secara terpisah, ia berusaha membaca pola yang lebih besar di baliknya.

Tentu orang bisa setuju atau tidak setuju dengan pendapatnya. Itu hal yang wajar dalam ruang publik yang sehat. Namun kehadiran figur seperti Tiyo menunjukkan bahwa kehidupan bersama membutuhkan orang-orang yang berani mengajukan pertanyaan ketika sebagian besar orang mulai merasa cukup dengan jawaban yang ada.

Pada akhirnya, kekuatan seorang pengkritik tidak terletak pada kemampuannya membuat semua orang sepakat. Kekuatan itu justru muncul ketika ia berhasil membuat masyarakat kembali berpikir, kembali berdiskusi, dan kembali menimbang berbagai peristiwa yang sedang mereka hadapi.

Dan dari dua peristiwa yang saya saksikan tersebut, saya melihat Tiyo Ardianto sedang memainkan peran itu: merawat percakapan publik agar tidak kehilangan daya kritisnya.

Mungkin karena itulah Tiyo terus mengajak publik melihat persoalan lebih jauh dari sekadar individu yang tersandung kasus.

Sebab dalam logika kekuasaan, sebagaimana pepatah Tiongkok yang kerap dikutip Prabowo Subianto, “ikan busuk dari kepalanya”, maka pembusukan tidak pernah selesai dijelaskan hanya dengan menunjuk ekornya. []