Kisah

Kisah Abu Bakar Asy-Syibli dan Seekor Kucing: Rahmat Allah Datang karena Kasih Sayang kepada Makhluk

Redaksi
×

Kisah Abu Bakar Asy-Syibli dan Seekor Kucing: Rahmat Allah Datang karena Kasih Sayang kepada Makhluk

Sebarkan artikel ini
Kisah Abu Bakar Asy-Syibli
Ilustrasi Ai

ANNAIRI.OR.ID – Kasih sayang Allah Swt begitu luas dan tidak terbatas. Rahmat-Nya tidak hanya diberikan kepada orang yang memiliki banyak amal ibadah, tetapi juga kepada siapa saja yang menunjukkan kasih sayang kepada sesama makhluk ciptaan-Nya.

Al-Qur’an berulang kali menegaskan bahwa Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Salah satu kisah yang sering dijadikan pelajaran tentang luasnya rahmat Allah adalah kisah seorang ulama sufi terkemuka, Syaikh Abu Bakar Asy-Syibli, sebagaimana dikutip oleh Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nashaihul ‘Ibad.

Siapakah Abu Bakar Asy-Syibli?

Syaikh Abu Bakar Asy-Syibli merupakan salah seorang tokoh besar dalam dunia tasawuf. Beliau dikenal sebagai murid dari ulama sufi terkenal, Syaikh Junaid Al-Baghdadi.

Ketakwaan, kezuhudan, dan kesungguhannya dalam beribadah menjadikan Asy-Syibli dihormati sepanjang sejarah Islam.

Namun, kisah berikut menunjukkan bahwa rahmat Allah tidak semata-mata diberikan karena banyaknya ibadah, melainkan juga karena kasih sayang kepada makhluk-Nya.

Dialog Abu Bakar Asy-Syibli Setelah Wafat

Dalam kitab Nashaihul ‘Ibad, Syekh Nawawi Al-Bantani meriwayatkan bahwa setelah Abu Bakar Asy-Syibli wafat, ada seseorang yang bermimpi bertemu dengannya. Dalam mimpi itu, Asy-Syibli menceritakan dialognya dengan Allah Swt.

Teks Arab

سُئِلَ الشِّبْلِيُّ بَعْدَ مَوْتِهِ عَنْ حَالِهِ فِي الْمَنَامِ، فَقَالَ: قَالَ اللَّهُ لِي:

يَا أَبَا بَكْرٍ، أَتَدْرِي بِمَ غَفَرْتُ لَكَ؟

قُلْتُ: بِصَالِحِ أَعْمَالِي.

قَالَ: لَا.

قُلْتُ: بِإِخْلَاصِ عِبَادَتِي.

قَالَ: لَا.

قُلْتُ: بِحَجِّي وَصَوْمِي وَصَلَاتِي.

قَالَ: لَا.

قُلْتُ: بِهِجْرَتِي إِلَى الصَّالِحِينَ وَلِطَلَبِ الْعِلْمِ.

قَالَ: لَا.

قُلْتُ: إِلَهِي، فَبِمَ؟

فَقَالَ تَعَالَى: أَتَذْكُرُ حِينَ كُنْتَ تَمْشِي فِي دَرْبٍ بِبَغْدَادَ، فَوَجَدْتَ هِرَّةً صَغِيرَةً قَدْ أَضْعَفَهَا الْبَرْدُ، وَهِيَ تَتَزَوَّى مِنْ شِدَّتِهِ، فَأَخَذْتَهَا رَحْمَةً لَهَا، وَأَدْخَلْتَهَا فِي فَرْوِكَ، وَكَانَ عَلَيْكَ وِقَايَةً لَهَا؟

فَقُلْتُ: نَعَمْ.

فَقَالَ تَعَالَى: بِرَحْمَتِكَ لِتِلْكَ الْهِرَّةِ رَحِمْتُكَ.

Terjemahan

Artinya:

“Setelah Syibli wafat, beliau ditanya dalam sebuah mimpi mengenai keadaannya.”

Syibli berkata:

“Allah berfirman kepadaku: ‘Wahai Abu Bakar, tahukah engkau karena apa Aku mengampunimu?’

Aku menjawab:

“Karena amal-amal salehku.”

Allah berfirman:

“Bukan.”

Aku berkata lagi:

“Karena keikhlasan ibadahku.”

Allah berfirman:

“Bukan.”

Aku berkata:

“Karena hajiku, puasaku, dan salatku.”

Allah berfirman:

“Bukan.”

Aku berkata lagi:

“Karena aku mendatangi orang-orang saleh dan menuntut ilmu.”

Allah berfirman:

“Bukan.”

Aku pun bertanya:

“Wahai Tuhanku, lalu karena apa?”

Allah berfirman:

“Apakah engkau masih ingat ketika berjalan di salah satu jalan di Kota Baghdad, lalu engkau menemukan seekor anak kucing yang sangat lemah karena kedinginan. Kucing itu menggigil menahan dingin. Kemudian engkau mengangkatnya karena rasa belas kasihan, memasukkannya ke dalam pakaian berbulu yang engkau kenakan, dan melindunginya?”

Aku menjawab:

“Ya.”

Allah kemudian berfirman:

“Karena kasih sayangmu kepada anak kucing itu, maka Aku melimpahkan rahmat-Ku kepadamu.”

(HR dalam Kitab Nashaihul ‘Ibad, hlm. 16).

Hikmah Kisah Abu Bakar Asy-Syibli

Kisah ini mengajarkan bahwa setiap bentuk kebaikan memiliki nilai di sisi Allah Swt. Kasih sayang kepada makhluk hidup, sekecil apa pun, tidak akan pernah sia-sia.

Bahkan, dalam kisah ini, Allah Swt menunjukkan bahwa rahmat-Nya diberikan bukan semata karena banyaknya ibadah yang dilakukan seseorang, melainkan juga karena kelembutan hati dan kasih sayang kepada makhluk ciptaan-Nya.

Islam mengajarkan agar manusia berbuat baik kepada siapa saja, baik kepada sesama manusia, hewan, maupun seluruh makhluk Allah. Sebab, setiap amal kebaikan akan memperoleh balasan yang terbaik dari Allah Swt.

Sebagaimana sabda Rasulullah saw., orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Allah Yang Maha Penyayang. Karena itu, menolong makhluk yang lemah bukan hanya menunjukkan akhlak mulia, tetapi juga menjadi jalan untuk memperoleh rahmat Allah.

Sumber

  • Nawawi Al-Bantani, Nashaihul ‘Ibad, hlm. 16.
  • Ali Abdullah, Kisah Hikmah Para Sufi dan Ulama Salaf, Qudsi Media, hlm. 51.