Kisah

Kisah Sahabat yang Mempertahankan Iman di Hadapan Kaisar Romawi, Menggetarkan Hati

Redaksi
×

Kisah Sahabat yang Mempertahankan Iman di Hadapan Kaisar Romawi, Menggetarkan Hati

Sebarkan artikel ini
kisah sahabat mempertahankan iman
Ilustrasi AI ChatGbt

Keteguhan iman lebih berharga daripada seluruh kemewahan dunia.

ANNAIRI.OR.ID – Di masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, sekelompok pasukan kaum muslimin diutus menuju wilayah Romawi untuk berperang. Namun dalam pertempuran itu, mereka mengalami kekalahan dan sekitar dua puluh orang ditawan oleh Kaisar Romawi.

Satu per satu tawanan dipanggil menghadap Kaisar. Kepada sahabat pertama, Kaisar menawarkan jabatan tinggi, harta yang melimpah, kehormatan, dan kekuasaan apabila ia bersedia meninggalkan agama Islam serta menyembah berhala. Namun jika menolak, hukuman mati telah menantinya.

Tanpa sedikit pun rasa gentar, sahabat tersebut menjawab bahwa dirinya tidak akan pernah menjual agamanya demi kenikmatan dunia. Baginya, keimanan jauh lebih berharga daripada seluruh kekayaan dan kekuasaan.

Mendengar jawaban itu, Kaisar memerintahkan agar sahabat tersebut dipenggal di tengah lapangan.

Setelah kepalanya terpisah dari tubuhnya, terjadi peristiwa yang menggetarkan hati. Kepala sahabat itu dikisahkan menggelinding mengelilingi lapangan sebanyak tiga kali sambil melantunkan firman Allah SWT:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ۝٢٧ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً ۝٢٨ فَادْخُلِي فِي عِبَادِي ۝٢٩ وَادْخُلِي جَنَّتِي ۝٣٠

Artinya: “Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27–30)

Peristiwa itu membuat seluruh orang yang menyaksikan terdiam. Namun, Kaisar justru semakin murka.

Ia kemudian memanggil sahabat kedua dan memberikan tawaran yang sama. Jabatan, kekayaan, serta keselamatan akan menjadi miliknya apabila bersedia meninggalkan Islam.

Sahabat kedua menjawab dengan penuh keyakinan.

Ia berkata bahwa siapa pun mungkin mampu memenggal lehernya, tetapi tidak akan pernah mampu memutus keimanan yang telah tertanam di dalam hatinya.

Kaisar kembali memerintahkan hukuman mati.

Setelah dipenggal, kepala sahabat kedua juga dikisahkan menggelinding mengelilingi lapangan sebanyak tiga kali sambil membaca firman Allah SWT:

فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَّاضِيَةٍ ۝٢١ فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍ ۝٢٢ قُطُوفُهَا دَانِيَةٌ ۝٢٣

Artinya:“Maka dia berada dalam kehidupan yang diridai, di dalam surga yang tinggi, buah-buahannya dekat.” (QS. Al-Haqqah: 21–23)

Setelah itu, kepala sahabat kedua berhenti di dekat kepala sahabat pertama sebagai simbol kemuliaan bagi orang-orang yang teguh mempertahankan iman.

Melihat kejadian tersebut, Kaisar kembali memanggil tawanan ketiga.

Kali ini tawaran yang sama kembali diberikan. Jabatan, harta, dan kemewahan dunia dijanjikan apabila ia mau meninggalkan agama Islam.

Berbeda dengan dua sahabat sebelumnya, tawanan ketiga justru tergoda oleh gemerlap dunia. Ia menyatakan bersedia mengikuti agama Kaisar demi memperoleh kekuasaan dan kekayaan.

Namun sebelum semua hadiah diberikan, salah seorang penasihat Kaisar mengusulkan agar kesetiaan tawanan itu diuji terlebih dahulu.

Ia diminta membunuh salah seorang sahabatnya sendiri sebagai bukti bahwa dirinya benar-benar telah meninggalkan agamanya.

Tanpa ragu, tawanan ketiga memenuhi perintah tersebut. Ia membunuh sahabatnya sendiri.

Melihat kejadian itu, penasihat Kaisar justru berkata bahwa orang seperti itu tidak layak dipercaya.

Menurutnya, seseorang yang tega mengkhianati sahabat yang sejak awal berjuang bersamanya tentu tidak akan pernah setia kepada orang lain.

Kaisar akhirnya membatalkan semua janjinya.

Ia justru memerintahkan agar tawanan ketiga dihukum mati.

Setelah dipenggal, kepala tawanan ketiga dikisahkan menggelinding mengelilingi lapangan sambil membaca firman Allah SWT:

أَفَمَنْ حَقَّ عَلَيْهِ كَلِمَةُ الْعَذَابِ أَفَأَنْتَ تُنقِذُ مَن فِي النَّارِ

Artinya: “Maka apakah orang yang telah pasti mendapat ketetapan azab itu dapat engkau selamatkan? Apakah engkau dapat menyelamatkan orang yang berada di dalam neraka?” (QS. Az-Zumar: 19)

Berbeda dengan dua kepala sahabat pertama yang berhenti berdekatan, kepala sahabat ketiga berhenti jauh di tepi lapangan. Kisah ini menggambarkan akibat dari menggadaikan keimanan demi kenikmatan dunia yang bersifat sementara.

Kisah dalam Syarah Ushfuriyah ini mengajarkan bahwa iman adalah nikmat terbesar yang tidak dapat dibeli dengan jabatan, harta, ataupun kekuasaan.

Dua sahabat pertama memilih mempertahankan akidah hingga akhir hayat dan memperoleh kemuliaan. Sebaliknya, sahabat ketiga kehilangan kehormatan karena mengorbankan keyakinannya demi kepentingan dunia. []

Catatan: Kisah ini bersumber dari kitab Syarah Ushfuriyah, yaitu kitab yang berisi hikayat dan pelajaran moral (targhib wa tarhib). Kisah tersebut dimaksudkan sebagai ibrah atau teladan tentang keteguhan iman, bukan sebagai riwayat hadis yang berstatus sahih. Mencantumkan sumber ini membantu pembaca memahami konteks literatur asal kisah.