Lukni Maulana dikenal sebagai penyair, budayawan, penulis, dan penggerak ruang-ruang kebudayaan di Indonesia.
ANNAIRI.OR.ID – Lukni Maulana bersama dua penyair Beno Siang Pamungkas dan Slamet Priyatin baru saja meluncurkan buku Setengah Tiang: Antologi Puisi Tiga Penyair (27/6/2026).
Kehadiran buku tersebut kembali menegaskan kiprah Lukni sebagai salah satu penyair sekaligus budayawan yang konsisten merawat tradisi sastra, kebudayaan, dan pendidikan.
Selama lebih dari dua dekade, ia tidak hanya dikenal melalui karya-karya puisinya, tetapi juga melalui dedikasinya membangun ruang-ruang kebudayaan, menggerakkan komunitas literasi, serta menjembatani tradisi pesantren dengan dunia seni dan sastra kontemporer.
Di kalangan pegiat sastra dan budaya, nama Lukni Maulana bukanlah sosok baru. Ia dikenal sebagai penyair, penulis, budayawan, aktivis kebudayaan, jurnalis, sekaligus organisator yang meyakini bahwa seni bukan sekadar karya untuk dinikmati, melainkan jalan hidup yang mampu merawat peradaban.
Gagasan itulah yang kemudian mewarnai hampir seluruh perjalanan intelektual dan kebudayaannya.
Pria kelahiran 24 Juli 1984 ini tumbuh dalam lingkungan pinggiran Kota Semarang yang dekat dengan tradisi. Saat usia belia, ia telah menjadi santri di Pondok Pesantren Mamba’ul Hisan, Sidayu – Gresik tempat ia mulai mengenal pendidikan agama setelah belajar kepada orang tuanya. Tradisi mengaji dan pembentukan karakter yang kelak menjadi fondasi kuat dalam perjalanan hidupnya.
Masa remajanya dilanjutkan di Pondok Pesantren Al-Hikmah Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, salah satu pesantren yang memiliki tradisi intelektual dan keilmuan Islam yang kuat di Indonesia.
Di lingkungan pesantren tersebut, Lukni tidak hanya memperdalam ilmu agama, tetapi juga mulai akrab dengan dunia literasi, diskusi, dan tradisi berpikir kritis yang kelak memengaruhi karya-karya.
Semangat belajar itu tidak berhenti ketika ia kembali ke Kota Semarang. Ia terus memperdalam khazanah keislaman dengan mengaji kitab-kitab hadis di Pondok Pesantren Dondong Mangkang, Kota Semarang.
Hingga sekarang, tradisi mengaji masih menjadi bagian penting dalam kehidupannya. Lukni diketahui masih aktif mengikuti pengajian di Pondok Pesantren Al-Itqon Bugen, Kota Semarang, sebagai bentuk ikhtiar menjaga kesinambungan tradisi keilmuan pesantren di tengah aktivitasnya.
Selain menempuh pendidikan pesantren, Lukni juga melanjutkan pendidikan tinggi di IAIN Walisongo Semarang, yang kini menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang.
Masa kuliah menjadi fase penting yang mempertemukan dirinya dengan dunia sastra, teater, jurnalistik, dan gerakan intelektual mahasiswa.
Di kampus, ia aktif bergabung dalam Keluarga Pecinta Teater (KPT) Teater Beta, salah satu komunitas teater mahasiswa yang cukup dikenal di Kota Semarang. Dunia teater kemudian menjadi ruang kreatif yang memperkaya cara pandangnya dalam melihat kehidupan.
Pengalaman tersebut tidak hanya membentuk kemampuan artistiknya, tetapi juga memperluas perspektifnya dalam menyampaikan kritik sosial melalui karya sastra maupun pertunjukan.
Kecintaan terhadap seni pertunjukan terus dijaga hingga kini. Setelah lama dikenal sebagai penyair, Lukni baru saja merampungkan sebuah naskah drama berjudul Omonomon, yang menjadi karya terbarunya di bidang teater.
Kehadiran naskah tersebut menunjukkan bahwa kreativitasnya tidak berhenti pada puisi, tetapi juga berkembang dalam dunia dramaturgi.
Di sisi lain, aktivitas jurnalistik telah mengiringi perjalanan intelektualnya sejak masih menjadi mahasiswa. Saat itu ia dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi Bersuara, media milik Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) Cabang Semarang.
Pengalaman tersebut mengasah ketajaman analisis sekaligus memperkuat kemampuan menulis opini, esai, dan kritik sosial yang kemudian banyak dipublikasikan di berbagai media massa.
Berbekal pengalaman di pesantren, kampus, jurnalistik, dan dunia seni, Lukni berkembang menjadi sosok yang mampu memadukan tradisi keilmuan Islam dengan pemikiran kebudayaan modern.
Ia memandang sastra sebagai medium pendidikan yang dapat memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, spiritualitas, dan kebangsaan.
Pandangan tersebut semakin menguat ketika pada tahun 2018 ia dipercaya menjadi Ketua Pengurus Wilayah Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama Jawa Tengah.
Di bawah kepemimpinannya, Lesbumi NU Jawa Tengah semakin aktif menghadirkan berbagai ruang kebudayaan yang melibatkan masyarakat lintas generasi.
Lukni mengusung prinsip yang hingga kini terus menjadi pijakan gerakannya, yaitu “Seni budaya bukanlah laku jual, melainkan laku hidup.”
Baginya, seni tidak semata-mata dipahami sebagai produk hiburan ataupun komoditas ekonomi, tetapi merupakan cara manusia menjaga identitas budaya, memperkuat nilai spiritual, serta merawat peradaban bangsa.
Prinsip tersebut diwujudkan melalui berbagai program kebudayaan, di antaranya Majelis Budaya dan Mimbar Budaya, yang mempertemukan seniman, budayawan, ulama, akademisi, mahasiswa, hingga masyarakat umum dalam ruang dialog yang terbuka.
Melalui pendekatan yang disebutnya sebagai Dakwah Kebudayaan, Lukni berupaya menghadirkan kembali metode dakwah para Walisongo, yakni menyampaikan nilai-nilai Islam melalui seni, budaya, musik, sastra, dan tradisi lokal.
Selain memimpin Lesbumi NU Jawa Tengah, Lukni juga dipercaya sebagai Pengurus Bidang Kebudayaan KAHMI Jawa Tengah,
Pengurus Bidang Kajian dan Riset Barisan Nusantara, serta hingga kini menjabat sebagai Pimpinan Redaksi Barisan.co, media yang banyak mengangkat isu kebudayaan, sejarah, pemikiran, sosial, lingkungan, hingga kebangsaan.
Ia juga menjadi penggagas Suluk Senen Pahingan, forum pengajian kebudayaan yang diasuh KH Ubaidullah Shodaqoh atau yang akrab disapa Mbah Ubaid.
Forum tersebut berkembang menjadi ruang perjumpaan para ulama, santri, budayawan, seniman, akademisi, mahasiswa, dan masyarakat umum untuk mendiskusikan berbagai persoalan sosial, agama, sastra, dan kebudayaan secara terbuka dan inklusif.
Di luar aktivitas organisasi, Lukni hingga kini juga masih aktif mengembangkan pendidikan berbasis masyarakat melalui Pesulukan Annairi.
Bersama istrinya melalui ruang tersebut, ia mengembangkan berbagai kajian tasawuf, pendidikan karakter, sastra, dan kebudayaan. Dari ruang pendidikan itu pula lahir salah satu karya religinya yang berjudul Wirid Sirr An-Nur, yang menjadi bagian dari ikhtiarnya memperkenalkan khazanah tasawuf.
Kiprah Sastra, Organisasi, dan Karya-Karya Lukni Maulana
Sebagai penyair, Lukni Maulana dikenal memiliki karakter kepenyairan yang kuat. Puisi-puisinya banyak berbicara tentang demokrasi, kemanusiaan, spiritualitas, kritik sosial, lingkungan hidup, hingga wajah Islam Nusantara.
Latar belakang pendidikan pesantren memberi warna yang khas dalam setiap karya yang ditulisnya, sehingga menghadirkan perpaduan antara refleksi batin, kritik sosial, dan nilai-nilai budaya.
Selain aktif menulis puisi, ia juga produktif menulis opini dan esai di berbagai media massa. Sejak masih mahasiswa, tulisan-tulisannya telah dimuat di Jawa Pos, Suara Merdeka, Barometer, dan Harian Rakyat Jateng.
Beberapa di antaranya berjudul Kewirausahaan untuk Siswa, Mengembangkan Wisata Sastra, Kita Bukan Masyarakat Miskin, Merdeka dari Utang dan Korupsi, Reifikasi Manusia dan Alam, Pendidikan Nilai Ekologi, serta Dekonstruksi Perempuan dalam Keluarga.
Di tingkat nasional, Lukni juga aktif dalam gerakan Puisi Menolak Korupsi (PMK) yang digagas Laskar Puisi Menolak Korupsi sebagai bentuk perlawanan moral terhadap praktik korupsi melalui karya sastra.
Jejak kepengarangannya semakin lengkap melalui sejumlah buku tunggal, yakni kumpulan puisi Risalah Demokrasi: Antologi 99 Puisi, Cinta dan Gerakan (2013), kumpulan esai Cinta, Penderitaan dan Ketaatan (2015), dan kumpulan cerpen Sang Morvious (2015).
Selain itu, ia juga berkontribusi dalam berbagai antologi puisi nasional, seperti Puisi Menolak Korupsi, Memo untuk Presiden, Antologi Puisi Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia, Puisi Buat Gus Dur: Dari Dam Sengon ke Jembatan Penengel (2023), Jalan Remang Kesaksian (2015), dan Antologi Puisi Tambak Gugat (2018).
Terbaru, Lukni Maulana bersama Beno Siang Pamungkas dan Slamet Priyatin meluncurkan buku Setengah Tiang: Antologi Puisi Tiga Penyair (2026), yang merekam refleksi tiga penyair terhadap berbagai dinamika sosial, budaya, dan kemanusiaan.
Di luar karya-karya yang telah diterbitkan, kontribusi terbesar Lukni Maulana sesungguhnya terletak pada kemampuannya membangun ekosistem kebudayaan.
Ia tidak hanya menghasilkan puisi, naskah teater, esai tetapi juga menciptakan ruang-ruang dialog yang mempertemukan seniman, ulama, akademisi, mahasiswa, dan masyarakat untuk terus belajar, berdiskusi, dan merawat tradisi.
Melalui organisasi, media, pendidikan, sastra, dan forum-forum budaya yang digagasnya, Lukni terus menunjukkan bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan energi yang harus terus dihidupkan agar tetap relevan bagi generasi masa depan.
Konsistensi itulah yang menjadikan Lukni Maulana sebagai salah satu figur dalam perkembangan sastra, pendidikan dan kebudayaan.
Kiprahnya tidak hanya tercermin melalui buku-buku yang ditulis, tetapi juga melalui ruang-ruang kebudayaan yang ia bangun, komunitas yang ia hidupkan, serta generasi muda yang terus ia dorong untuk mencintai sastra, tradisi, dan kebudayaan Indonesia. []









