Mendidik dengan hati adalah tentang menghadirkan kasih sayang, bukan sekadar menyampaikan pelajaran.
Oleh: Syaiful Rozak
(Guru MTs Mazro’atul Ulum)
MENJADI guru adalah pilihan sadar bagi mereka yang peduli terhadap pendidikan. Pilihan sadar inilah yang kemudian menjadi pijakan guru dalam menjalankan tugas dan profesinya.
Sesuatu yang dipilih secara sadar akan membawa konsekuensi berupa tanggung jawab atas apa yang telah ia pilih.
Setiap guru tentu mendambakan gaji yang layak, lingkungan sekolah yang nyaman, iklim pendidikan yang mendukung, rekan kerja yang support serta murid yang baik.
Akan tetapi tidak semua harapan itu sesuai dengan kenyataan. Dalam sekolah maju biasanya ada proses yang panjang melalui penyelarasan visi, kepemimpinan yang efektif serta budaya kerja yang disiplin.
Jadi lingkungan sekolah yang nyaman, iklim pendidikan yang mendukung serta murid yang baik itu bukanlah sebuah hadiah, tapi medan perjuangan, jalan pengabdian yang harus diwujudkan melalui komitmen dan kerja keras warga sekolah.
Disinilah letak seorang guru itu diuji. Dalam mendidik murid akan selalu ada tantangan yang harus dihadapi. Entah karakter yang berbeda, bakat yang beragam, kemampuan memahami materi yang bertingkat, motivasi belajar rendah hingga murid nakal dan susah diatur.
Peran guru dalam mendidik murid yang memiliki latar belakang yang berbeda itu menuntut untuk kreatif, adaptif dan memahami perkembangan psikologi murid.
Guru tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan akademik dalam mendidik murid, melainkan harus melibatkan hati untuk mendampingi murid agar dapat berkembang berdasarkan bakatnya masing-masing.
Mendidik dengan melibatkan hati menjadi begitu penting karena terbukti dapat menumbuhkan ikatan emosional antara murid dengan guru, membangun hubungan yang tulus serta membentuk karakter.
Mendidik dengan Hati dimulai dengan Kasih Sayang
Mendidik dengan hati adalah pendekatan pendidikan yang mengutamakan cinta, empati, dan keteladanan. Melalui pendekatan ini murid dipahami secara utuh (pikiran dan perasaan), membangun koneksi emosional, serta membentuk karakter dan budi pekerti yang luhur.
Mendidik dengan hati dimulai dari kasih sayang. Kasih sayang diberikan melalui bahasa perbuatan. Mendidik dengan kasih sayang mempertemukan pikiran dengan pikiran, menjembatani hati dengan hati.
Dengan kasih sayang murid diposisikan sebagai anak yang layak dicintai apapun kondisi dan latar belakangnya.
Hal ini selaras dengan Al-Qur’an Surat Arrahman ayat (1-4). “Allah yang maha pengasih. Yang telah mengajarkan al-qur’an. Dia menciptakan manusia. Mengajarinya pandai bicara dan menjelaskan.
Ayat ini bisa dipahami bahwa Allah mendahulukan sifat arrahman (kasih sayang) dalam mengajarkan al-qur’an kepada manusia serta mendidik manusia pandai bicara dan menjelaskan.
Padahal untuk mengajari al-qur’an dan mendidik manusia Allah bisa saja menggunakan sifat al-alim (maha mengetahui) dan al-aziz (maha perkasa).
Mendidik dengan hati berangkat dari paradigma kasih sayang mendahului hukuman. Berani melepaskan kacamata menghakimi dan mulai menggunakan kacamata kasih sayang. Menegur tanpa melukai dan menghukum tanpa menyakiti.
Mendidik dengan kasih sayang bisa dimulai dengan hal sederhana seperti mendengarkan keluh kesah murid, membangun komunikasi yang positif, memahami emosi murid, menunjukkan kepedulian dan empati serta keteladanan dalam bersikap. []



