Artikel

Pelangi di Keesokan Hari: Menemukan Ketenangan Hati Setelah Kehilangan

Lukni Maulana
×

Pelangi di Keesokan Hari: Menemukan Ketenangan Hati Setelah Kehilangan

Sebarkan artikel ini
menemukan ketenangan hati setelah kehilangan
Ilustrasi

Di balik duka dan air mata karena kehilangan, percayalah bahwa hati yang berserah kepada Allah akan selalu menemukan pelangi ketenangan di keesokan hari.

ANNAIRI.OR.ID – Angin siang berembus pelan, tetapi teriknya mentari terasa begitu menyengat. Cahaya matahari membakar kulit, sementara dedaunan yang rindang hanya mampu menghadiahkan sedikit kesejukan. Di sebuah taman yang oleh banyak orang disebut Taman Mimpi, pepohonan tumbuh rapat, bunga-bunga bermekaran menyebarkan harum yang menenangkan, dan anak-anak berlarian dengan tawa yang begitu lepas. Kehidupan seolah berjalan seperti biasa.

Namun, tidak bagi seorang pemuda yang duduk sendirian di bawah pohon tua.

Di hadapannya tergeletak selembar kertas dan sebuah pulpen. Sesekali ia menulis, lalu berhenti. Menatap langit. Menghela napas panjang. Wajahnya menyimpan kegelisahan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh perlahan membasahi pipinya.

Konon, siapa pun yang datang ke Taman Mimpi selalu membawa harapan. Ada yang mencari jawaban, ada yang mencari ketenangan, dan ada pula yang sekadar ingin berdamai dengan dirinya sendiri.

Pemuda itu termasuk yang terakhir.

Dengan tangan gemetar, ia melemparkan pulpen dan kertasnya ke udara. Benda-benda itu jatuh kembali ke tanah, seolah langit pun tak mampu menjawab kegelisahan yang sedang ia rasakan.

“Aku akan membuktikan bahwa aku mampu mewujudkan impianmu…”

Suara lirih itu memecah keheningan.

Kalimat itu bukan sekadar janji. Di dalamnya tersimpan penyesalan yang begitu dalam.

Sejak kecil ia dikenal sebagai sosok yang penuh semangat. Cita-cita besar selalu memenuhi benaknya. Berbagai perlombaan pernah diikutinya, dari jurnalistik, seni, hingga karate. Prestasi demi prestasi berhasil diraih. Ia percaya bahwa kerja keras mampu mengalahkan segala rintangan.

Namun hari itu, semua keyakinannya terasa runtuh.

“Mengapa Engkau memanggilnya begitu cepat, ya Allah?”

Kalimat itu keluar perlahan bersama isak tangis yang tak lagi mampu dibendung.

“Bukankah masih banyak mimpi yang ingin kami rajut bersama?”

Kenangan demi kenangan kembali memenuhi pikirannya.

Ia teringat masa-masa sekolah yang dipenuhi canda dan tawa. Setiap langkah menuju cita-cita selalu ditemani seseorang yang begitu berarti baginya.

Namanya Erina.

Seorang gadis sederhana yang selalu hadir membawa semangat, kelembutan, dan doa dalam setiap perjalanan hidupnya.

Namun kini, Erina telah lebih dahulu memenuhi panggilan Rabb-nya.

Bukan karena perpisahan. Bukan pula karena berakhirnya cinta. Melainkan karena takdir Allah yang tidak pernah dapat ditolak oleh siapa pun.

Pemuda itu kembali menundukkan kepala.

“Ya Allah… aku tidak memahami seluruh rencana-Mu. Hatiku begitu berat menerima kenyataan ini. Namun aku yakin, Engkau lebih mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Mu.”

Begitulah kehidupan.

Manusia boleh merancang seribu impian, tetapi Allah-lah sebaik-baik Perencana.

Takdir sering kali menghadirkan jalan yang tidak pernah kita bayangkan. Ada pertemuan yang mengajarkan kebahagiaan, ada pula perpisahan yang mengajarkan keikhlasan.

Lambat laun tangisnya mereda.

Ia mengambil kembali secarik kertas yang tadi terlempar.

Dengan tangan yang kini lebih tenang, ia menuliskan sebuah kalimat sederhana.

“Ya Allah, ampunilah kelemahanku. Ampunilah keluh kesahku. Ajarkan aku untuk ridha atas setiap takdir-Mu, dan kuatkan aku agar tetap melangkah di jalan-Mu.”

Ia tersenyum tipis.

Barangkali kehilangan memang tidak pernah benar-benar hilang. Namun hati yang berserah akan selalu menemukan ruang untuk menerima.

Sebelum meninggalkan taman itu, ia memandang langit yang mulai dihiasi awan-awan putih.

“Semoga surga yang engkau perjuangkan di dunia menjadi tempat terindah di akhirat. Selamat jalan, wahai gadis yang pernah mengajarkanku arti ketulusan.”

Ia pun melangkah pergi.

Bukan sebagai seorang yang kalah oleh takdir, tetapi sebagai seorang hamba yang sedang belajar menerima ketetapan Rabb-nya.

* * *

Setiap manusia pasti pernah kehilangan seseorang yang sangat berarti. Tidak ada seorang pun yang mampu menghindari perpisahan. Namun, kehilangan bukanlah akhir dari kehidupan.

Sesungguhnya yang paling mampu menguatkan diri kita adalah hati yang kembali kepada Allah. Tidak ada manusia lain yang mampu menggantikan ketenangan yang Allah tanamkan ke dalam jiwa seorang hamba yang berserah diri kepada-Nya.

Karena itu, luruskanlah niat, benahilah cara berpikir, dan dekatkanlah diri kepada Allah. Dari sanalah kekuatan itu akan tumbuh kembali.

Allah Swt berfirman:

يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفْسُ ٱلْمُطْمَئِنَّةُ

ٱرْجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya.” (QS. Al-Fajr [89]: 27–28).

Demikianlah warna-warni kehidupan.

Kadang kita dipertemukan dengan orang-orang yang sangat kita cintai. Kadang pula kita harus merelakan mereka pergi lebih dahulu. Semua itu adalah bagian dari perjalanan menuju kedewasaan iman.

Maka bersihkanlah hati dengan taubat, basahilah jiwa dengan zikir, dan terangilah akal dengan ilmu. Sebab hati yang tenang akan mampu melihat hikmah di balik setiap musibah.

Kesabaran dan keridaan merupakan pintu menuju kasih sayang Allah. Dengan keduanya, setiap ujian berubah menjadi ladang pahala, dan setiap kehilangan berubah menjadi jalan untuk semakin mengenal-Nya.

Nikmatilah pelangi kehidupan sebagaimana adanya. Tulislah syair-syair syukur ketika bahagia, dan lantunkan melodi kesabaran ketika diuji. Sebab sesudah hujan selalu ada pelangi, dan sesudah kesulitan Allah pasti menghadirkan kemudahan.

Pelangi itu mungkin tidak datang hari ini.

Namun, ia akan hadir di keesokan hari, bagi mereka yang tetap percaya kepada janji Allah.

Tidaklah Allah menciptakan sesuatu melainkan mengandung hikmah bagi orang-orang yang mau berpikir dan mengambil pelajaran.

فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ

اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ

Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah [94]: 5–6). []

Wallāhu a’lam bish-shawāb.