News

UIN Sunan Kudus, Media Gathering, dan Rafting: Catatan dari Magelang

Lukni Maulana
×

UIN Sunan Kudus, Media Gathering, dan Rafting: Catatan dari Magelang

Sebarkan artikel ini
UIN Sunan Kudus dan Media Gathering
Rektor UIN Sunan Kudus Prof. Abdurrohman Kasdi mendayung bersama jurnalis saat rafting di Sungai Elo, Magelang.

MENDAPAT undangan mengikuti Media Gathering Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus di Hotel Atria Magelang, Selasa-Rabu (21-22/7/2026).

Kegiatan yang mengusung tema “Penguatan Strategi Promosi dan Kemitraan Media UIN Sunan Kudus Tahun 2026” itu bukan sekadar ajang silaturahmi kampus dan insan media.

Saya melihat ada keseriusan UIN Sunan Kudus untuk membangun komunikasi publik yang lebih baik, memperluas publikasi, sekaligus mengenalkan berbagai prestasi, hasil riset, dan inovasi kampus kepada masyarakat.

Hal yang paling saya apresiasi adalah ketika Rektor UIN Sunan Kudus, Prof. Abdurrohman Kasdi, tidak hanya menyampaikan sambutan, tetapi juga meminta masukan secara langsung dari para jurnalis yang hadir.

Sebanyak 18 media diundang dalam kegiatan tersebut. Beragam saran pun bermunculan. Ada yang mengusulkan agar kerja sama publikasi diperluas, ada yang berharap akses kehumasan dipermudah sehingga proses konfirmasi lebih cepat, dan ada pula yang mengusulkan agar setiap dosen memiliki portofolio yang lengkap sehingga wartawan lebih mudah mencari narasumber sesuai bidang keahliannya.

Ketika giliran saya berbicara, saya mencoba memberikan sudut pandang yang berbeda. Saya mengakses website resmi UIN Sunan Kudus. Hal pertama yang saya lihat justru bukan tampilan websitenya, melainkan Domain Authority (DA).

Saat itu nilainya masih berada di angka 37. Saya kemudian menyampaikan kepada Prof. Abdurrohman Kasdi dan jajarannya:

“Kalau sampai akhir masa kepemimpinan nanti Domain Authority website UIN Sunan Kudus bisa mencapai angka 50, saya akan acungi jempol.”

Mengapa saya mengatakan demikian? Karena kampus-kampus yang sudah mapan umumnya memiliki Domain Authority di kisaran 70 hingga 80.

Memang DA bukan ukuran resmi Google, tetapi menjadi salah satu indikator yang menunjukkan kekuatan dan otoritas sebuah website di mata mesin pencari.

Saya juga menyampaikan bahwa cara kampus membangun reputasi digital sudah berubah. Kalau dulu kita ramai membicarakan Search Engine Optimization (SEO) agar mudah terindeks Google, sekarang tantangannya jauh lebih luas.

SEO tidak lagi berdiri sendiri, tetapi berkembang mengikuti pola kerja Artificial Intelligence (AI), mulai dari generative AI hingga teknologi yang semakin mampu memahami konteks informasi.

Artinya, website kampus tidak cukup hanya rajin mengunggah publikasi. Kontennya harus berkualitas, konsisten, memiliki struktur yang baik, dan mampu menjawab kebutuhan pembaca sehingga mudah dipahami, baik oleh manusia maupun mesin pencari berbasis AI.

Saya bahkan sempat berandai-andai. Bagaimana jika suatu saat nanti Kementerian Agama membuat pemeringkatan perguruan tinggi bukan hanya berdasarkan akreditasi, jumlah guru besar, atau kualitas program studi, tetapi juga berdasarkan kualitas website kampus?

Saya kira itu akan menjadi tantangan yang menarik. Kampus tentu akan berlomba-lomba menghidupkan websitenya, memperkuat publikasi, dan mengelolanya secara profesional agar menjadi rujukan sekaligus mudah ditemukan melalui mesin pencari maupun AI.

Di tengah dialog, seorang dosen kemudian bertanya kepada saya, “Mas, kalau begitu bagaimana cara menaikkan Domain Authority website?”

Sebelum saya menjawab, Prof. Abdurrohman Kasdi ikut menimpali bahwa pengelolaan keyword juga menjadi penting.

Menurut beliau, bisa saja sebuah kampus yang belum memiliki jurusan paling populer justru lebih dulu direkomendasikan mesin pencari jika mampu mengelola keyword dengan baik.

Saya mengangguk dan mengatakan bahwa pendapat tersebut benar. Namun saya juga menjelaskan bahwa tidak ada jalan pintas untuk meningkatkan Domain Authority.

Setidaknya ada tiga hal yang harus dijaga, yaitu umur dan konsistensi pengelolaan website, publikasi yang rutin dan berkualitas, serta pembangunan backlink dari website lain yang memiliki reputasi baik, didukung pengelolaan internal link dan external link yang benar.

Strategi inilah yang selama ini juga digunakan banyak perusahaan besar untuk memperkuat kehadiran digital mereka.

Keesokan harinya suasana berubah. Setelah berdialog, kami diajak mengikuti rafting di Sungai Elo. Yang paling menarik perhatian saya bukan derasnya arus Sungai Elo, melainkan kehadiran Prof. Abdurrohman Kasdi yang ikut turun langsung bersama para wartawan.

Saya jarang melihat seorang rektor mau mengenakan pelampung, naik perahu karet, mendayung, dan menikmati derasnya sungai bersama insan media.

Di atas perahu tidak ada lagi sekat antara pimpinan kampus dan wartawan. Semua larut dalam suasana kebersamaan, saling membantu menjaga keseimbangan perahu, sesekali tertawa ketika diterpa jeram. []