Di tengah kehidupan yang penuh kesibukan, manusia sering mencari ketenangan dan petunjuk dalam hidupnya.
ANNAIRI.OR.ID – Dalam tradisi spiritual Islam, wirid merupakan rangkaian bacaan dzikir, doa, dan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca secara rutin untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Amalan seperti ini telah lama menjadi bagian dari kehidupan umat Islam sebagai sarana menjaga hubungan batin dengan Sang Pencipta.
Di antara berbagai rangkaian dzikir tersebut, hadir sebuah amalan yang diberi nama Wirid Sirr An-Nur, sebuah rangkaian bacaan yang sarat dengan makna spiritual dan refleksi keimanan.
Wirid ini disusun oleh Lukni Maulana sebagai sebuah amalan pribadi yang lahir dari perenungan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dan doa-doa yang diajarkan dalam tradisi Islam.
Meski pada awalnya digunakan sebagai amalan pribadi, wirid ini juga dapat dibaca secara umum oleh siapa saja yang ingin memperkuat kedekatan spiritual kepada Allah serta menumbuhkan ketenangan hati dalam kehidupan sehari-hari.
Nama “Sirr An-Nur” berasal dari bahasa Arab yang berarti rahasia cahaya. Dalam perspektif spiritual, istilah ini menggambarkan cahaya ilahi yang menerangi hati manusia ketika ia mendekat kepada Allah melalui dzikir dan doa.
Cahaya tersebut bukanlah cahaya fisik, melainkan cahaya iman yang membawa ketenangan, petunjuk, dan kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam setiap aspek kehidupan.
Rangkaian bacaan dalam Wirid Sirr An-Nur dimulai dengan Basmalah dan Surah Al-Fatihah, yang merupakan pembuka dari hampir seluruh amalan dalam tradisi Islam.
Surah Al-Fatihah sendiri memiliki kedudukan istimewa sebagai inti dari Al-Qur’an, karena di dalamnya terdapat doa untuk memohon petunjuk menuju jalan yang lurus serta pengakuan atas keagungan dan rahmat Allah.
Setelah itu, wirid dilanjutkan dengan Surah Al-Falaq dan Surah An-Nas, dua surah yang dikenal sebagai ayat perlindungan.
Kedua surah ini mengajarkan manusia untuk memohon perlindungan kepada Allah dari berbagai bentuk keburukan, baik yang berasal dari makhluk, lingkungan, maupun bisikan jahat yang tersembunyi.
Dengan membaca ayat-ayat ini secara rutin, seorang hamba diingatkan bahwa perlindungan sejati hanya berasal dari Allah Swt.
Di dalam rangkaian wirid juga terdapat dzikir yang menyebut nama-nama Allah seperti Ya Hafizh, Ya Rahman, Ya Rahim, yang mengandung makna penjagaan, kasih sayang, dan rahmat Allah.
Dzikir tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan manusia berada dalam pemeliharaan Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Wirid ini juga memuat doa perlindungan yang dikenal dalam hadis Nabi, yaitu bacaan yang memohon perlindungan dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari gangguan setan, makhluk berbahaya, dan berbagai keburukan lainnya.
Doa ini menegaskan bahwa kekuatan manusia sangat terbatas dan hanya dengan pertolongan Allah seseorang dapat terhindar dari berbagai bahaya.
Selain perlindungan, Wirid Sirr An-Nur juga mengandung doa yang berkaitan dengan rezeki, ilmu yang bermanfaat, dan amal yang diterima.
Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan seorang Muslim tidak hanya berfokus pada keselamatan spiritual, tetapi juga pada keberkahan dalam menjalani kehidupan di dunia.
Keutamaan dan Manfaat Wirid Sirr An-Nur
Salah satu keutamaan dari Wirid Sirr An-Nur adalah kemampuannya untuk menumbuhkan ketenangan hati dan kedekatan spiritual kepada Allah.
Bacaan-bacaan dzikir di dalamnya mengajak seseorang untuk selalu mengingat Tuhan dalam setiap keadaan, sehingga hati menjadi lebih tenang dan pikiran lebih jernih.
Keutamaan lainnya adalah perlindungan spiritual. Dengan membaca ayat-ayat perlindungan seperti Surah Al-Falaq dan An-Nas serta doa-doa yang diajarkan dalam wirid ini, seseorang diharapkan memperoleh penjagaan dari berbagai gangguan yang tidak terlihat maupun dari keburukan yang dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari.
Wirid Sirr An-Nur juga memiliki manfaat dalam membuka pintu rezeki dan keberkahan hidup. Penyebutan asma Allah seperti Ya Razzaq dan Ya Fattah merupakan bentuk doa agar Allah melapangkan rezeki serta membuka berbagai jalan kebaikan.
Dalam pengertian spiritual, rezeki tidak hanya berupa materi, tetapi juga mencakup kesehatan, ilmu yang bermanfaat, serta kemudahan dalam menjalani kehidupan.
Selain itu, wirid ini mengandung doa untuk memohon ilmu yang bermanfaat dan amal yang diterima oleh Allah. Hal ini sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim, karena ilmu yang benar akan menuntun seseorang kepada kebaikan, sedangkan amal yang diterima menjadi bekal untuk kehidupan akhirat.
Keutamaan lain dari Wirid Sirr An-Nur adalah adanya shalawat kepada Nabi Muhammad Saw di dalam rangkaiannya. Shalawat merupakan salah satu bentuk ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam.
Dengan memperbanyak shalawat, seorang hamba diharapkan mendapatkan rahmat, keberkahan, dan kedekatan dengan Rasulullah sebagai teladan dalam kehidupan.
Di bagian akhir wirid terdapat ayat yang menyentuh hati tentang jiwa yang tenang (nafsul mutmainnah) yang dipanggil untuk kembali kepada Tuhannya dengan ridha dan diridhai.
Ayat ini menggambarkan keadaan spiritual yang sangat tinggi, di mana seorang hamba merasakan kedamaian batin karena keimanannya kepada Allah.
Dengan membaca Wirid Sirr An-Nur secara rutin dan penuh penghayatan, seseorang diharapkan dapat merasakan manfaat spiritual yang mendalam.
Dzikir-dzikir yang terkandung di dalamnya menjadi sarana untuk membersihkan hati, memperkuat iman, serta mengingatkan manusia akan tujuan hidupnya sebagai hamba Allah.
Sebagai sebuah amalan yang disusun oleh Lukni Maulana, Wirid Sirr An-Nur tidak hanya menjadi rangkaian bacaan dzikir, tetapi juga sebuah jalan refleksi spiritual yang mengajak manusia untuk mencari cahaya ilahi dalam kehidupannya.
Cahaya tersebut diharapkan mampu menerangi hati, menuntun langkah, serta membawa kedamaian dalam kehidupan dunia dan akhirat. []
Bacaan Lenkap Wirid Sirr An-Nur
Berikut ini bacaan lengkap Wirid Sirr An-Nur teks arab, latin dan artinya:
وِرْدُ سِرِّ النُّورِ
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ ٢ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ ٣ مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ ٤ اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ ٥ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ ٦ صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَࣖ ٧
Al-ḫamdu lillâhi rabbil-‘âlamîn. Ar-raḫmânir-raḫîm. Mâliki yaumid-dîn. Iyyâka na‘budu wa iyyâka nasta‘în. Ihdinash-shirâthal-mustaqîm. Shirâthalladzîna an‘amta ‘alaihim ghairil-maghdlûbi ‘alaihim wa ladl-dlâllîn.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,. Pemilik hari Pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Bimbinglah kami ke jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat.
قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِۙ ١ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَۙ ٢ وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَۙ ٣ وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِۙ ٤ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَࣖ ٥
Qul a‘ûdzu birabbil-falaq. Min syarri mâ khalaq. Wa min syarri ghâsiqin idzâ waqab. Wa min syarrin-naffâtsâti fil-‘uqad. Wa min syarri ḫâsidin idzâ ḫasad. Wa min syarri ḫâsidin idzâ ḫasad
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan yang (menjaga) fajar (subuh). Dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan,. Dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,. Dari kejahatan perempuan-perempuan (penyihir) yang meniup pada buhul-buhul (talinya),. Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.
قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ ١ مَلِكِ النَّاسِۙ ٢ اِلٰهِ النَّاسِۙ ٣ مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ ٤ الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ ٥ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِࣖ ٦
Qul a‘ûdzu birabbin-nâs. Malikin-nâs. Ilâhin-nâs. Min syarril-waswâsil-khannâs. Alladzî yuwaswisu fî shudûrin-nâs. Minal-jinnati wan-nâs
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan manusia. Raja manusia,. Sembahan manusia. Dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari (golongan) jin dan manusia.
لَخَلْقُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ ٱلنَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ ٱلَّذِى خَلَقَ سَبْعَ سَمَٰوَٰتٍ طِبَاقًا ۖ مَّا تَرَىٰ فِى خَلْقِ ٱلرَّحْمَٰنِ مِن تَفَٰوُتٍ ۖ فَٱرْجِعِ ٱلْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِن فُطُورٍ ثُمَّ ٱرْجِعِ ٱلْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنقَلِبْ إِلَيْكَ ٱلْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ
La kholqu as-samawati wal-ardhi akbaru min kholqin-nasi wa lakinna aktsaron-naasi laa ya’lamun. Allażī khalaqa sab’a samāwātin ṭibāqā, mā tarā fī khalqir-raḥmāni min tafāwut, farji’il-baṣara hal tarā min fuṭụr. Summarji’il-baṣara karrataini yangqalib ilaikal-baṣaru khāsi`aw wa huwa ḥasīr
Sungguh, penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah. Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?.
(11x) يَا حَفِيظُ يَا حَفِيظُ إِفَضْنَا، يَا رَحْمَٰنُ يَا رَحِيمُ اِرْحَمْنَا
Yā Ḥafīẓu Yā Ḥafīẓu i-fiḍ-nā, Yā Raḥmān Yā Raḥīm ir-ḥam-nā
Wahai Yang Maha Memelihara, Wahai Yang Maha Memelihara, limpahkanlah kepada kami, wahai Yang Maha Pengasih, wahai Yang Maha Penyayang, kasihilah kami.
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ
Audzu bi kalimaatillahit taammati min kulli syaithonin wa haammatin wa min kulli ;ainin laammatin
Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang telah sempurna dari godaan setan, binatang beracung dan dari pengaruh ‘ain yang buruk.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin an-nabiyyi al-ummiyyi wa ‘alā āli Muḥammadin kamā ṣallayta ‘alā Ibrāhīma wa āli Ibrāhīm, wa bārik ‘alā Muḥammadin an-nabiyyi al-ummiyyi kamā bārakta ‘alā Ibrāhīma wa ‘alā āli Ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd.
Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad, nabi yang ummi, dan kepada keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Dan limpahkanlah keberkahan kepada Nabi Muhammad, nabi yang ummi, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.
يَا رَبِّ نُطْفَةٌ يَا رَبِّ عَلَقَةٌ يَا رَبِّ مُضْغَةٌ يَا رَبِّ أَذَكَرٌ يَا رَبِّ أُنْثَى يَا رَبِّ شَقِيٌّ أَمْ سَعِيدٌ فَمَا الرِّزْقُ فَمَا الْأَجَلُ هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖۗ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًاۙ يُّرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًاۙ وَّيُمْدِدْكُمْ بِاَمْوَالٍ وَّبَنِيْنَ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ جَنّٰتٍ وَّيَجْعَلْ لَّكُمْ اَنْهٰرًاۗ وَوَجَدَكَ عَاۤىِٕلًا فَاَغْنٰىۗ وَاَنَّهٗ هُوَ اَغْنٰى وَاَقْنٰىۙ وَاَنَّهٗ هُوَ رَبُّ الشِّعْرٰىۙ
Yā Rabbī nuṭfatun, yā Rabbī ‘alaqatun, yā Rabbī muḍghatun, yā Rabbī adhakrun, yā Rabbī unthā, yā Rabbī shaqiyyun am sa‘īdun, famā ar-rizqu famā al-ajal. Huwalladzî ja‘ala lakumul-ardla dzalûlan famsyû fî manâkibihâ wa kulû mir rizqih, wa ilaihin-nusyûr. La’in syakartum la’azîdannakum wa la’ing kafartum inna ‘adzâbî lasyadîd. Astaghfirû rabbakum innahû kâna ghaffârâ. yursilis-samâ’a ‘alaikum midrârâ. Wa yumdidkum bi’amwâliw wa banîna wa yaj‘al lakum jannâtiw wa yaj‘al lakum an-hârâ. Wa wajadaka ‘â’ilan fa aghnâ. Wa annahû huwa aghnâ wa aqnâ. Wa annahû huwa rabbusy-syi‘râ.
Wahai Rabb, sekarang baru sperma, wahai Rabb, segumpal darah, wahai Rabb (sekarang jadi) segumpal daging. Maka bila Allah menghendaki menciptakan janin itu, malaikat itu berkata; “Wahai Rabb, laki-laki, wahai Rabb (atau) perempuan, Wahai Rabb sengsara atau bahagia, bagaimana rezekinya, kapan ajalnya. Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu dalam keadaan mudah dimanfaatkan. Maka, jelajahilah segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Hanya kepada-Nya kamu (kembali setelah) dibangkitkan. Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras. Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. (Jika kamu memohon ampun,) niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu,. Memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu. Dan mendapatimu sebagai seorang yang fakir, lalu Dia memberimu kecukupan?. Bahwa sesungguhnya Dialah yang menganugerahkan kekayaan dan kecukupan. Bahwa sesungguhnya Dialah Tuhan (yang memiliki) bintang Syi‘ra.
(11x) يَا رَزَّاقُ يَا فَتَّاحُ
Yā Razzāqu, Yā Fattāḥu
Wahai Yang Maha Pemberi Rezeki, Wahai Yang Maha Pembuka (Segala Rahmat dan Kebaikan).
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
Allahumma innii as-aluka ‘ilman naafi’a, wa rizqon thoyyibaa, wa ‘amalan mutaqobbalaa.
Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat (bagi diriku dan orang lain), rizki yang halal dan amal yang diterima (di sisi-Mu dan mendapatkan ganjaran yang baik).
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَحِبَّاءِ حَبِيبِكَ الْمُصْطَفَى، وَأَغْرِقْ قُلُوبَنَا فِي أَنْوَارِ رَسُولِكَ الْمُجْتَبَى، فَإِنَّهُ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِكَ، وَبِنُورِ مُحَمَّدٍ نَرْجِعُ إِلَيْكَ يَا رَبَّ الْوُجُودِ.
Allāhumma aj‘alnā min aḥibbā’i ḥabībika al-muṣṭafā, wa aghriq qulūbanā fī anwāri rasūlika al-mujtabā, fa innahu lā ḥawla wa lā quwwata illā bika, wa bi-nūri Muḥammadin narji‘u ilayka yā Rabbal-wujūd.
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk para pecinta kekasih-Mu yang terpilih, tenggelamkanlah hati kami dalam cahaya utusan-Mu yang mulia.
Sungguh, tiada daya dan upaya kecuali dengan-Mu, dan dengan Nur Muhammad kami kembali kepada-Mu, wahai Tuhan segala wujud.
(11x) يَا سَمِيعُ يَا بَصِيرُ
Yā Samī’u Yā Baṣīr
Wahai Yang Maha Mendengar, Wahai Yang Maha Melihat.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ
Allahumma inni a’udzu bika min ‘ilmin la yanfa’u, wa min qalbin la yakhsha’u, wa min nafsin la tashba’u, wa min du’a’in la yusma’u.
Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak merasa puas, dan dari doa yang tidak didengar (tidak dikabulkan).
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ إِنَّ لِلَّهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ أَنْزَلَ مِنْهَا رَحْمَةً وَاحِدَةً بَيْنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالْبَهَائِمِ وَالْهَوَامِّ فَبِهَا يَتَعَاطَفُونَ وَبِهَا يَتَرَاحَمُونَ وَبِهَا تَعْطِفُ الْوَحْشُ عَلَى وَلَدِهَا وَأَخَّرَ اللَّهُ تِسْعًا وَتِسْعِينَ رَحْمَةً يَرْحَمُ بِهَا عِبَادَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Innallâha wa malâ’ikatahû yushallûna ‘alan-nabiyy, yâ ayyuhalladzîna âmanû shallû ‘alaihi wa sallimû taslîmâ. Allahumma shollii wa sallim ‘alaa nabiyyinaa Muhammad. Bi-faḍlillāhi wa bi-raḥmatihi fa-bi-dzālika fal-yafraḥū, huwa khayrun mimmā yajmaʿūn. Inna lillāhi mi’ata raḥmah, anzala minhā raḥmatan wāḥidatan baina al-jinni wal-insi wal-bahā’imi wal-hawāmmi, fa bihā yata’āṭafūna, wa bihā yatarāḥamūna, wa bihā ta’ṭifu al-waḥshu ‘alā waladihā, wa akhkharallāhu tis’an wa tis’īna raḥmatan yarḥamu bihā ‘ibādahu yauma al-qiyāmah.
Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya. Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi kami Muhammad. Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan. Sesungguhnya Allah memiliki seratus rahmat. Dari seratus rahmat tersebut, hanya satu yang di turunkan Allah kepada jin, manusia, hewan jinak dan buas. Dengan rahmat tersebut mereka saling mengasihi dan menyayangi, dan dengan rahmat itu pula binatang buas dapat menyayangi anaknya. Adapun Sembilan puluh sembilan rahmat Allah yang lain, maka hal itu ditangguhkan Allah. Karena Allah hanya akan memberikannya kepada para hamba-Nya yang shalih pada hari kiamat kelak.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ بِهِ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي خَيْرًا
Allahumma inni as’aluka min khairi ma sa’alaka ‘abduka wa nabiyyuka wa a‘udzu bika min sharri ma ‘adza bihi ‘abduka wa nabiyyuka. Allahumma inni as’aluka al-jannata wa ma qarraba ilaiha min qawlin aw ‘amalin, wa a‘udzu bika min an-nari wa ma qarraba ilaiha min qawlin aw ‘amalin. Wa as’aluka an taj‘ala kulla qadha’in qadhaytahu li khayra.
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan yang pernah dimohon oleh hamba dan nabi-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang pernah dimintakan perlindungan darinya oleh hamba dan nabi-Mu. Ya Allah, aku memohon surga dan apa yang mendekatkan kepadanya, baik dari perkataan maupun perbuatan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan apa yang mendekatkan kepadanya, baik dari perkataan maupun perbuatan. Dan aku memohon agar Engkau menjadikan setiap takdir yang Engkau tetapkan untukku sebagai kebaikan.
يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةًۚ فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْࣖ
Yâ ayyatuhan-nafsul-muthma’innah. Irji‘î ilâ rabbiki râdliyatam mardliyyah. Fadkhulî fî ‘ibâdî. Wadkhulî jannatî
Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai. Lalu, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ أَنْوَارَكَ فِي قُلُوبِنَا، وَأَنْوَارَ مُحَمَّدٍ فِي أَرْوَاحِنَا، وَأَنْوَارَ الْإِيمَانِ فِي جَوَارِحِنَا، حَتَّى نَكُونَ نُورًا فِي نُورٍ، وَنَصِلَ بِكَ إِلَى سِرِّ الْوُجُودِ.
Allāhumma aj‘al anwāraka fī qulūbinā, wa anwāra Muḥammadin fī arwāḥinā, wa anwāra al-īmāni fī jawāriḥinā, ḥattā nakūna nūran fī nūrin, wa naṣila bika ilā sirri al-wujūd.
Ya Allah, pancarkanlah cahaya-Mu dalam hati kami, pancarkanlah cahaya Muhammad dalam ruh kami, dan cahaya iman dalam seluruh amal perbuatan kami, hingga kami menjadi cahaya di dalam cahaya, dan sampai kepada rahasia wujud-Mu yang abadi.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ
Al-ḫamdu lillâhi rabbil-‘âlamîn.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. []





