Artikel

Makna Empat Huruf Hijaiyah Menara Masjid Tambakberas: Kisah Empat Batu dan Ikhtiar Keberkahan Rumah serta Usaha

Lukni Maulana
×

Makna Empat Huruf Hijaiyah Menara Masjid Tambakberas: Kisah Empat Batu dan Ikhtiar Keberkahan Rumah serta Usaha

Sebarkan artikel ini
empat huruf hijaiyah Menara Masjid Tambakberas
Masjid PPBU Tambakberas Jombang

ANNAIRI.OR.ID – Muktamar kembali diselenggarakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang. Momentum ini membuat Tambakberas kembali menjadi perhatian. Bagi saya, pesantren ini selalu memiliki daya tarik tersendiri.

Bukan hanya karena sejarah panjangnya sebagai salah satu pusat pendidikan Islam di Nusantara, tetapi juga karena sebuah kisah tentang empat huruf hijaiyah yang terpatri pada Menara Masjid Induk Tambakberas.

Sekitar tahun 1910, KH Hasbullah Sa’id menuliskan empat huruf hijaiyah, yaitu ح (Ḥā’) – ر (Rā’) – ت (Tā’) – م (Mīm) pada menara masjid.

Beliau kemudian berwasiat agar tulisan tersebut tidak dibuka hingga tahun 1948. Amanah itu secara khusus dititipkan kepada putranya, KH Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab), yang kemudian membukanya tepat pada tahun yang diwasiatkan, diiringi lantunan Shalawat Burdah oleh para santri.

Ketika dibuka, empat huruf tersebut dirangkai menjadi kalimat حُرٌّ تَمٌّ (Ḥurrun Tammun), yang dimaknai sebagai “Kemerdekaan yang Sempurna.” Kalimat itu dipandang sebagai simbol sekaligus isyarat lahirnya kemerdekaan Indonesia secara utuh.

Belakangan saya melihat di media sosial sebuah poster yang memaknai kembali empat huruf tersebut. Kali ini, maknanya tidak lagi dikaitkan dengan Ḥurrun Tammun, melainkan dijadikan akronim nilai-nilai santri Bahrul Ulum dalam menyongsong Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).

Huruf ح (Ḥā’) dimaknai sebagai berharokah. Huruf ر (Rā’) dimaknai sebagai riyadhoh. Huruf ت (Tā’) dimaknai sebagai tabarrukan kepada para guru. Sedangkan huruf م (Mīm) dimaknai sebagai Muhsinin.

Empat huruf itu kemudian dirangkai menjadi sebuah pesan:

“Sudah terbiasa berharokah sebagai bentuk riyadhoh kami sebagai santri. Niat kami tabarrukan kepada para guru. Mudah-mudahan apa yang kami lakukan menjadikan kami termasuk orang-orang Muhsinin.”

Saya sendiri memiliki pengalaman di Tambakberas yang berkaitan dengan bilangan empat tersebut. Mungkin karena saya dikenal orangnya celelean, sehingga acapkali diminta menjadi penyambung lidah atau nembung kepada para kiai.

Salah satu kisahnya, ada seorang teman yang memiliki tempat usaha. Anehnya, meskipun lokasinya sebenarnya cukup strategis, banyak orang seolah tidak menyadari keberadaan tempat usaha tersebut.

Kami kemudian sowan kepada salah seorang kiai. Nama beliau sengaja tidak saya sebutkan demi menjaga adab. Saya memohon doa sekaligus amalan agar sebuah rumah, tempat usaha, ataupun lingkungan dapat menghadirkan rasa nyaman, membahagiakan siapa pun yang datang, serta menjadi sebab keberkahan.

Beliau hanya memberikan jawaban singkat.

“Tanamlah empat batu pada empat sudut rumah.”

Saya langsung menangkap maksudnya. Mungkin karena setiap kali bapak menjenguk saya di pondok, Bu Nyai selalu menyapa beliau dengan panggilan “Mbah Yai”. Barangkali karena rambut bapak sudah dipenuhi uban. Entah mengapa, saya merasa memiliki kedekatan yang membuat saya lebih mudah memahami isyarat-isyarat tersebut.

Empat batu itu kemudian mengingatkan saya kepada empat huruf yang berada di Menara Masjid Induk Tambakberas, yaitu:

ح – ر – ت – م

Saya kemudian mencoba memaknainya sebagai sebuah perjalanan simbolik.

Huruf ح (Ḥā’) saya pahami sebagai lambang الحياة (al-Ḥayāh), yakni kehidupan. Kehidupan bukan sekadar denyut biologis, melainkan anugerah keberadaan yang berasal dari rahmat dan kehendak Allah.

Tahap berikutnya adalah huruf ر (Rā’), yang saya maknai sebagai الرُّجُوع (ar-Rujū’), yaitu gerak, perjalanan, dan kembali. Setelah memperoleh kehidupan, setiap makhluk bergerak menjalani lintasan eksistensinya. Gerak itu bukan sekadar perpindahan fisik, tetapi juga perjalanan ruhani menuju asal segala sesuatu.

Kemudian hadir huruf ت (Tā’), yang saya pahami sebagai التَّجَلِّي (at-Tajallī), yakni penampakan atau manifestasi. Dalam perjalanan kehidupan, berbagai hakikat yang semula tersembunyi mulai tersingkap melalui peristiwa, pengalaman, nikmat, ujian, serta tanda-tanda kebesaran Allah yang hadir dalam realitas.

Rangkaian itu mencapai puncaknya pada huruf م (Mīm), yang saya maknai sebagai التَّمَام (at-Tamām), yakni kesempurnaan. Kesempurnaan di sini bukan berarti berhentinya proses, melainkan tercapainya tujuan dari seluruh perjalanan eksistensi.

Dengan demikian, rangkaian:

الحياة → الرُّجُوع → التَّجَلِّي → التَّمَام

dapat dimaknai bahwa kehidupan bermula dari anugerah keberadaan. Kehidupan kemudian bergerak menempuh perjalanan kembali kepada asalnya.

Di sepanjang perjalanan itu, berbagai hakikat tersingkap melalui manifestasi-manifestasi Ilahi yang hadir dalam kehidupan, hingga akhirnya mencapai kesempurnaan sebagai tujuan akhir perjalanan eksistensi.

Dalam renungan pribadi saya, jika rumah atau tempat usaha hendak diikhtiarkan agar dipenuhi keberkahan, maka empat batu itu dapat ditandai dengan empat huruf yang ada di Menara Masjid Tambakberas, yaitu ح – ر – ت – م.

Tentu saja, penafsiran ini merupakan catatan pribadi saya. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa inilah makna yang dimaksud oleh para masyayikh Tambakberas. Justru saya melihat simbol-simbol semacam ini memiliki keluasan makna yang memungkinkan setiap orang mengambil hikmah sesuai kadar perenungannya.

Dalam khazanah penulisan rajah ataupun wafaq, salah satu yang paling sering disebut adalah Syekh Ahmad bin Ali al-Buni melalui karya monumentalnya, Syamsul Ma’ārif wa Laṭā’iful ‘Awārif.

Dalam salah satu pembahasannya disebutkan sebuah ikhtiar bagi siapa saja yang menginginkan rumah tangga yang harmonis, tenteram, dan penuh keberkahan rezeki. Ayat pembuka Surah Al-A’raf (المص) dan Surah Ibrahim (الر) ditulis pada batu marmer dengan tulisan timbul.

Batu marmer itu kemudian dipasang pada salah satu pasangan batu bata ketika rumah dibangun. Apabila rumah telah berdiri, salah satu pasangan batu bata di ruang tamu dapat dibuka, lalu diganti dengan batu marmer tersebut.

Bagi saya, ini merupakan bagian dari khazanah keilmuan Islam. Oleh karena itu, saya tidak menempatkannya sebagai sesuatu yang bersifat mutlak ataupun sebagai amalan yang hendak saya anjurkan, melainkan sebagai warisan intelektual Islam yang menarik untuk dikenal dan dikaji.

Sekadar catatan.

Wallāhu a’lam bi al-ṣawāb.

Lukni Maulana
Alumni Tambakberas
Ketua Lesbumi PWNU Jawa Tengah Periode 2018–2023