ANNAIRI.OR.ID – Di lingkungan Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pembacaan Qasidah Burdah telah lama menjadi bagian dari tradisi pesantren.
Syair karya Imam al-Bushiri itu bukan hanya dilantunkan sebagai pujian kepada Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi amaliah yang diwariskan para masyayikh kepada santri-santrinya.
Salah satu kisah yang masih sering diceritakan adalah ijazah Burdah dari KH Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab kepada para santri Tambakberas.
Kisah tersebut banyak disampaikan oleh salah seorang murid beliau, KH Moh. Djamaluddin Ahmad, ketika mengenang masa-masa belajar di bawah asuhan pendiri Nahdlatul Ulama tersebut.
Menariknya, Mbah Wahab tidak mengijazahkan seluruh isi Qasidah Burdah sebagai wirid khusus. Beliau justru memilih satu bait yang dikenal dengan sebutan Huwal Habib, yaitu:
هُوَ الْحَبِيْبُ الَّذِيْ تُرْجَى شَفَاعَتُهُ
لِكُلِّ هَوْلٍ مِنَ الْأَهْوَالِ مُقْتَحَمِ
Bait yang berarti “Dialah Sang Kekasih yang syafaatnya selalu diharapkan untuk menghadapi setiap kesulitan dan berbagai kedahsyatan” itu menjadi wirid yang diamalkan ketika seseorang memiliki hajat kepada Allah SWT.
Dibaca Saat Mbah Wahab Memperjuangkan Kepentingan Umat
Menurut penuturan KH Moh. Djamaluddin Ahmad, semasa beliau masih nyantri di Tambakberas, Mbah Wahab mempunyai kebiasaan mengumpulkan para santri setiap selesai salat Magrib.
Pada saat-saat tertentu, terutama ketika akan berangkat ke Jakarta membawa aspirasi Nahdlatul Ulama kepada Presiden Soekarno, para santri diminta membaca bait Huwal Habib secara istiqamah.
Amalan itu terus dibaca hingga Mbah Wahab kembali ke Tambakberas.
Setelah pulang, beliau kembali mengumpulkan para santri dan menceritakan hasil pertemuannya. Tidak jarang, Mbah Wahab menyampaikan bahwa usulan yang diperjuangkan telah diterima dengan baik.
Bagi para santri, peristiwa tersebut menjadi pelajaran bahwa perjuangan tidak hanya ditempuh melalui usaha lahir, tetapi juga disertai ikhtiar batin berupa doa dan wirid.
Ijazah yang Sarat Makna
KH Moh. Djamaluddin Ahmad juga menjelaskan bahwa Mbah Wahab mengijazahkan bacaan Huwal Habib sebanyak 100 kali ketika memiliki hajat.
Namun dalam praktiknya, beliau mengaku sering membacanya hingga 1.000 kali apabila menghadapi urusan yang dianggap sangat penting.
Menurut beliau, istiqamah mengamalkan wirid tersebut menghadirkan banyak keberkahan dalam perjalanan hidupnya. Kesaksian ini disampaikan sebagai pengalaman pribadi atas amalan yang diwariskan gurunya.
Bukan Sekadar Wirid
Tradisi ijazah Burdah Mbah Wahab memiliki karakter yang khas.
Yang diijazahkan bukan seluruh Qasidah Burdah, melainkan satu bait yang berisi pengharapan kepada syafaat Rasulullah SAW. Amalan itu juga tidak dipisahkan dari ikhtiar nyata.
Justru pembacaannya mengiringi perjuangan yang sedang dilakukan, baik untuk kepentingan pribadi maupun kemaslahatan umat.
Di sinilah letak nilai penting yang diwariskan Mbah Wahab. Wirid bukan dipahami sebagai jalan pintas untuk memperoleh sesuatu, melainkan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT sambil terus berusaha dan bertawakal.
Tradisi seperti inilah yang menjadikan pembacaan Qasidah Burdah tetap hidup di kalangan pesantren hingga sekarang.
Bukan semata karena keindahan syairnya, melainkan karena di dalamnya tersimpan sanad, adab, dan teladan para ulama dalam menghubungkan doa dengan ikhtiar.
Tata Cara Mengamalkan Wirid Huwal Habib Ijazah KH Wahab Chasbullah
Setelah menjelaskan berbagai pengalaman tentang keberkahan wirid Huwal Habib, KH. Moh. Djamaluddin Ahmad kemudian mengijazahkan tata cara pengamalannya sebagaimana beliau menerimanya langsung dari gurunya, KH. Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab).
Menurut beliau, amalan ini diawali dengan melaksanakan shalat sunnah hajat, kemudian dilanjutkan dengan tawassul, membaca beberapa surat Al-Qur’an, lalu membaca bait-bait tertentu dari Qasidah Burdah sebelum ditutup dengan doa sesuai hajat yang diinginkan.
Berikut urutan pengamalannya.
1. Melaksanakan Shalat Sunnah Hajat
Amalan diawali dengan melaksanakan shalat sunnah hajat sebagai bentuk ikhtiar memohon pertolongan kepada Allah SWT.
2. Membaca Tawassul
Setelah shalat hajat, dilanjutkan dengan membaca tawassul secara lengkap sebagai berikut:
(Tuliskan teks tawassul Arab sebagaimana naskah asli.)
3. Membaca Surat Al-Fatihah Sebanyak 11 Kali
Setelah tawassul selesai dibaca, lanjutkan dengan membaca Surat Al-Fatihah sebanyak 11 kali.
(Teks Al-Fatihah dapat ditampilkan sebagaimana naskah asli.)
4. Membaca Surat Al-Ikhlas Tiga Kali
Selanjutnya membaca Surat Al-Ikhlas sebanyak 3 kali.
(Teks surat tetap.)
5. Membaca Surat Al-Falaq Tiga Kali
Kemudian membaca Surat Al-Falaq sebanyak 3 kali.
6. Membaca Surat An-Nas Tiga Kali
Dilanjutkan membaca Surat An-Nas sebanyak 3 kali.
7. Membaca Ayat Kursi Tiga Kali
Berikutnya membaca Ayat Kursi sebanyak 3 kali.
Membaca Bait-bait Qasidah Burdah
Setelah seluruh rangkaian bacaan Al-Qur’an selesai, barulah membaca beberapa bait dari Qasidah Burdah dengan urutan sebagai berikut.
Pembuka: Dibaca 3 Kali
مَوْلَايَ صَلِّ وَسَلِّمْ دَائِمًا أَبَدًا
عَلَى حَبِيبِكَ خَيْرِ الْخَلْقِ كُلِّهِمِ
Bait Huwal Habib: Dibaca 100 Kali
هُوَ الْحَبِيبُ الَّذِي تُرْجَى شَفَاعَتُهُ
لِكُلِّ هَوْلٍ مِنَ الْأَهْوَالِ مُقْتَحَمِ
Penutup: Dibaca 3 Kali
مَوْلَايَ صَلِّ وَسَلِّمْ دَائِمًا أَبَدًا
عَلَى حَبِيبِكَ خَيْرِ الْخَلْقِ كُلِّهِمِ
Penegasan Terakhir
Kemudian ditutup kembali dengan membaca bait Huwal Habib sebanyak 1 kali.
هُوَ الْحَبِيبُ الَّذِي تُرْجَى شَفَاعَتُهُ
لِكُلِّ هَوْلٍ مِنَ الْأَهْوَالِ مُقْتَحَمِ
Berdoa Sesuai Hajat
Setelah seluruh rangkaian wirid selesai diamalkan, langkah terakhir adalah memanjatkan doa kepada Allah SWT sesuai dengan hajat dan kebutuhan masing-masing.
KH. Moh. Djamaluddin Ahmad menyampaikan bahwa tata cara ini merupakan ijazah yang beliau peroleh dari KH. Abdul Wahab Chasbullah. Beliau juga menceritakan bahwa istiqamah mengamalkan wirid tersebut telah menghadirkan banyak keberkahan dalam perjalanan hidupnya.
Bagi setiap pengamalnya, doa tetap dipanjatkan dengan penuh kerendahan hati dan keyakinan bahwa hanya Allah SWT yang berkuasa mengabulkan segala hajat.
Adapun wirid dan shalawat menjadi wasilah untuk mendekatkan diri kepada-Nya melalui kecintaan kepada Rasulullah SAW. Semoga Allah SWT mengabulkan setiap doa dan hajat yang dipanjatkan. Amin. []











