Satu pertanyaan tentang Allah mengubah niat dan menyelamatkan masa depan seorang saudagar.
ANNAIRI.OR.ID – Dikisahkan, ada seorang laki-laki yang jatuh hati kepada seorang perempuan. Perasaannya begitu besar hingga suatu hari ia ikut bepergian bersama rombongan yang juga diikuti perempuan itu. Mereka menempuh perjalanan panjang melintasi padang sahara.
Suatu malam, ketika rombongan berhenti untuk beristirahat, suasana menjadi sangat sunyi. Angin berembus pelan, dan satu per satu orang terlelap dalam tidur.
Melihat keadaan itu, laki-laki tersebut merasa inilah kesempatan untuk mengungkapkan isi hatinya.
Ia mendekati perempuan itu dan menyampaikan perasaannya. Perempuan itu hanya berkata, “Lihatlah, semua orang sudah tertidur.”
Laki-laki itu mengira ucapan tersebut adalah tanda bahwa keadaan aman. Ia bahkan berkeliling memastikan. Benar saja, semua orang sudah tidur pulas. Tidak ada yang terjaga.
Ia kembali dan berkata dengan yakin, “Ya, mereka semua sudah tidur.”
Namun perempuan itu lalu bertanya, “Menurutmu, apakah Allah juga tidur saat ini?”
Pertanyaan itu membuatnya terdiam. Ia menjawab, “Tidak. Allah tidak pernah tidur dan tidak pernah mengantuk.”
Perempuan itu pun berkata, “Kalau begitu, Dzat yang tidak pernah tidur itu sedang melihat kita sekarang, meskipun manusia lain tidak melihat. Bukankah Dia lebih pantas untuk kita takuti?”
Kalimat itu seperti tamparan yang menyadarkan. Laki-laki tersebut tiba-tiba menyadari bahwa meskipun manusia bisa lengah, Allah tidak pernah lengah.
Rasa takut kepada Tuhan mengalahkan keinginannya. Ia pun mengurungkan niatnya, meninggalkan perempuan itu, dan kembali ke kampung halamannya.
Ia bertobat dengan sungguh-sungguh.
Beberapa waktu kemudian, ketika ia wafat, ada seseorang yang bermimpi bertemu dengannya dan bertanya, “Apa yang Allah lakukan kepadamu?”
Ia menjawab, “Allah mengampuniku karena rasa takutku kepada-Nya saat itu. Karena itulah dosa itu dihapus.” [Mukasyafatul Qulub, Imam Ghazali]
Pesan:
Kisah ini sederhana, tetapi pesannya kuat: integritas bukan soal apa yang kita lakukan saat dilihat orang lain, melainkan pilihan yang kita ambil saat tidak ada siapa pun di sekitar kita, kecuali Allah yang selalu melihat.
Selain itu, kisah ini mengajarkan bahwa satu nasihat yang disampaikan dengan hikmah dapat mengubah jalan hidup seseorang. Perempuan tersebut tidak memarahi, menghardik, atau mempermalukannya, melainkan mengingatkannya kepada pengawasan Allah.
Dari sanalah lahir kesadaran, penyesalan, dan tobat yang tulus. Ini menjadi pelajaran bahwa mengajak kepada kebaikan dengan kelembutan dan mengingatkan tentang kebesaran Allah dapat menjadi sebab seseorang kembali ke jalan yang benar.

