Doa Nabi Zakaria dalam Al-Qur’an menjadi inspirasi bagi pasangan yang mendambakan keturunan untuk terus berikhtiar, berdoa, dan bersabar kepada Allah Swt.
ANNAIRI.OR.ID – Doa meminta keturunan dan hamil merupakan salah satu amalan yang banyak diamalkan oleh pasangan suami istri yang mendambakan hadirnya buah hati dalam rumah tangga.
Dalam Islam, kehadiran anak adalah anugerah besar sekaligus amanah dari Allah Swt yang tidak selalu datang dengan mudah bagi setiap pasangan. Ada yang segera diberi keturunan, namun ada pula yang harus menunggu dalam waktu lama dengan penuh kesabaran dan doa.
Memiliki anak atau keturunan adalah harapan terbesar bagi mereka yang telah menikah dan berumah tangga. Namun, tidak semua pasangan diberi kemudahan dalam mendapatkan keturunan oleh Allah Swt.
Bahkan Nabi Zakaria a.s. dan istrinya pun harus menunggu hingga usia yang sangat lanjut sebelum akhirnya dikaruniai seorang anak, yaitu Nabi Yahya a.s. Kisah ini menjadi bukti bahwa urusan keturunan sepenuhnya berada dalam kehendak Allah yang penuh hikmah.
Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Nabi Zakaria a.s. baru mendapatkan keturunan di usia tua. Hal ini menunjukkan bahwa keterlambatan bukan berarti penolakan, melainkan Allah memiliki waktu terbaik untuk setiap hamba-Nya. Karena itu, setiap pasangan dianjurkan untuk tidak berputus asa dalam berdoa, meskipun harapan belum segera terwujud.
Urusan keturunan merupakan rahasia Allah Swt. Anak juga merupakan rezeki yang diberikan Allah Azza wa Jalla kepada hamba-Nya. Meski demikian, manusia tetap diperintahkan untuk berikhtiar, baik secara lahir maupun batin.
Ikhtiar tersebut dapat berupa menjaga kesehatan, menjalani program kehamilan, serta memperbaiki kualitas ibadah dan hubungan kepada Allah Swt.
Doa dan Ikhtiar dalam Meminta Keturunan
Seorang hamba harus berusaha dan berikhtiar agar diberi keturunan yang baik, yaitu keturunan yang saleh dan salehah. Setelah itu, ia dianjurkan untuk berpasrah diri melalui zikir dan doa. Dalam Al-Qur’an, Allah Swt berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan.” (QS. Ghafir: 60)
Ayat ini menjadi dasar penting dalam amalan doa meminta keturunan dan hamil, bahwa setiap permohonan seorang hamba akan didengar oleh Allah sesuai kehendak-Nya.
Salah satu doa yang paling dikenal dalam permohonan keturunan adalah doa Nabi Zakaria a.s. dalam QS. Al-Anbiya ayat 89:
رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ
Bacaan latin: Rabbi laa tazarnii fardan wa anta khairul waaritsiin
Artinya: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri, dan Engkaulah waris yang paling baik.”
Doa ini menggambarkan ketergantungan total seorang hamba kepada Allah Swt dalam memohon keturunan, sekaligus menunjukkan bahwa harapan seorang mukmin selalu disandarkan kepada Allah.
Menurut Tafsir Al-Qur’an
Dikutip dari Tafsir Al-Munir karya Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, Allah Swt menjelaskan nikmat-Nya kepada Nabi Zakaria a.s. berupa anak dan keturunan setelah beliau dan istrinya telah lanjut usia serta merasakan kesepian tanpa anak.
Nabi Zakaria berdoa kepada Allah agar dianugerahi seorang anak yang dapat menjadi penenang, penolong dalam urusan agama dan dunia, serta penerus setelah beliau wafat.
Doa tersebut adalah doa yang tulus dan penuh keyakinan bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, meskipun secara kebiasaan manusia tidak mungkin lagi memiliki anak karena usia yang sangat lanjut dan kondisi istrinya yang telah menopause.
Ibnu Abbas r.a. menyebutkan bahwa usia Nabi Zakaria a.s. saat itu mencapai sekitar seratus tahun, sedangkan istrinya berusia sembilan puluh sembilan tahun.
Menurut Tafsir Ibnu Katsir, doa tersebut dipanjatkan secara sembunyi-sembunyi dengan penuh kerendahan hati. Makna “janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri” adalah tanpa anak dan tanpa pewaris yang melanjutkan urusan setelahnya.
Allah kemudian mengabulkan doa tersebut dengan menganugerahkan Nabi Yahya a.s. dan menjadikan istrinya mampu mengandung.
Riwayat dari Ibnu Abbas, Mujahid, dan Sa’id bin Jubair juga menyebutkan bahwa istrinya sebelumnya adalah wanita mandul, lalu Allah mengubah keadaannya sehingga dapat melahirkan. []












