Keislaman

Mendoakan Pelaku Maksiat: Doa Rasulullah untuk Orang Berdosa

Redaksi
×

Mendoakan Pelaku Maksiat: Doa Rasulullah untuk Orang Berdosa

Sebarkan artikel ini
Mendoakan Pelaku Maksiat
Ilustrasi Ai Gemini

Jangan mudah menghina pelaku dosa. Rasulullah ﷺ justru mengajarkan untuk mendoakan mereka agar mendapat ampunan dan rahmat Allah.

ANNAIRI.OR.ID – Mendoakan pelaku maksiat adalah akhlak mulia yang diajarkan langsung oleh Rasulullah ﷺ. Di zaman sekarang, banyak orang lebih mudah menghina, mencaci, dan mempermalukan pelaku dosa dibandingkan mendoakan mereka agar mendapat ampunan dari Allah.

Padahal dalam sebuah hadis shahih, Nabi ﷺ justru melarang umatnya menghina orang yang melakukan maksiat dan mengajarkan doa khusus untuk mereka. Hadis ini menjadi pelajaran penting bahwa Islam bukan agama yang hanya menghukum, tetapi juga agama kasih sayang dan harapan akan taubat.

Ketika seseorang melakukan dosa atau kejahatan, sering kali masyarakat langsung memberi cap buruk dan berharap orang tersebut hancur. Tidak sedikit yang menganggap pelaku maksiat tidak pantas mendapatkan doa dan belas kasih. Padahal manusia bisa berubah kapan saja dengan izin Allah.

Karena itu, sikap seorang Muslim seharusnya tidak mudah menghakimi secara berlebihan, apalagi sampai membantu setan menjauhkan seseorang dari taubat. Inilah pentingnya memahami ajaran tentang mendoakan pelaku maksiat sebagaimana dicontohkan Rasulullah ﷺ.

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا كَانَ يُدْعَى عَبْدَ اللَّهِ، وَكَانَ يُلَقَّبُ حِمَارًا، وَكَانَ يُضْحِكُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ، وَكَانَ النَّبِيُّ ﷺ قَدْ جَلَدَهُ فِي الشَّرَابِ، فَأُتِيَ بِهِ يَوْمًا فَأَمَرَ بِهِ فَجُلِدَ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ: اللَّهُمَّ الْعَنْهُ، مَا أَكْثَرَ مَا يُؤْتَى بِهِ! فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «لَا تَلْعَنُوهُ، فَوَاللَّهِ مَا عَلِمْتُ إِلَّا أَنَّهُ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ»

Dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang laki-laki yang sering dipanggil Abdullah (dan dijuluki Himar), ia sering membuat Rasulullah ﷺ tertawa, dan Nabi ﷺ pernah menghukumnya karena minum khamr. Suatu hari ia dibawa lagi dan dihukum cambuk, lalu seorang laki-laki berkata: “Ya Allah, laknatilah dia, betapa sering ia dibawa (untuk dihukum)!”

Maka Nabi ﷺ bersabda: “Jangan kalian melaknatnya, demi Allah aku tidak mengetahui darinya kecuali bahwa ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari)

Dalam hadis riwayat Sunan Abu Dawud disebutkan bahwa pernah didatangkan seorang laki-laki yang mabuk kepada Nabi ﷺ. Lalu Rasulullah ﷺ memerintahkan agar orang tersebut dihukum.

Namun setelah hukuman selesai, ada salah seorang yang mencela dan mendoakan keburukan bagi laki-laki itu. Rasulullah ﷺ langsung menegurnya dan mengajarkan doa yang sangat menyentuh hati.

Berikut hadisnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ أُتِيَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِرَجُلٍ قَدْ شَرِبَ قَالَ ‏”‏ اضْرِبُوهُ ‏”‏ ‏.‏
قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ فَمِنَّا الضَّارِبُ بِيَدِهِ وَالضَّارِبُ بِنَعْلِهِ وَالضَّارِبُ بِثَوْبِهِ ‏.‏
فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ رَجُلٌ مَا لَهُ أَخْزَاهُ اللَّهُ ‏.‏
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏”‏ لاَ تَقُولُوا هَكَذَا لاَ تُعِينُوا عَلَيْهِ الشَّيْطَانَ وَلَكِنْ قُولُوا اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ ‏”‏

Artinya:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Seorang laki-laki yang telah minum khamar didatangkan kepada Nabi ﷺ. Beliau bersabda: ‘Pukullah dia.’

Abu Hurairah berkata: Di antara kami ada yang memukul dengan tangannya, ada yang memukul dengan sandalnya, dan ada yang memukul dengan pakaiannya.

Ketika orang itu pergi, seseorang berkata: ‘Semoga Allah menghinakannya.’

Maka Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Jangan kalian berkata seperti itu. Janganlah kalian membantu setan atas dirinya. Akan tetapi katakanlah: “Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, rahmatilah dia.”’”

Hadis ini mengandung pelajaran yang sangat besar tentang bagaimana Islam memandang pelaku dosa. Rasulullah ﷺ memang memerintahkan hukuman atas perbuatan maksiat, tetapi beliau tidak membiarkan umatnya menghina dan merendahkan pelaku dosa tersebut.

Nabi ﷺ memahami bahwa orang yang terjatuh dalam kemaksiatan tetaplah manusia yang membutuhkan pertolongan, nasihat, dan doa.

Inilah sisi indah Islam yang sering dilupakan banyak orang. Ada sebagian orang yang sangat keras terhadap pelaku maksiat hingga merasa bangga ketika mencaci mereka di depan umum. Padahal Rasulullah ﷺ justru melarang tindakan seperti itu. Dalam hadis tersebut, Nabi ﷺ mengatakan:

“Janganlah kalian membantu setan atas dirinya.”

Kalimat ini sangat dalam maknanya. Ketika seseorang sudah terjatuh dalam dosa, lalu masyarakat terus menghina dan mempermalukannya, maka itu bisa membuatnya semakin jauh dari jalan Allah. Ia bisa merasa tidak lagi punya harapan untuk menjadi baik. Akibatnya, setan semakin mudah menjerumuskan orang tersebut ke dalam dosa yang lebih besar.

Karena itulah Islam mengajarkan mendoakan pelaku maksiat agar hati mereka lembut dan mendapatkan hidayah. Doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ dalam hadis tersebut sangat sederhana tetapi penuh kasih sayang:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ

Artinya: “Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, rahmatilah dia.”

Doa ini menunjukkan bahwa seorang Muslim harus tetap memiliki rasa peduli kepada sesama, meskipun orang tersebut sedang melakukan kesalahan. Sebab bisa jadi hari ini seseorang berada dalam dosa, tetapi besok Allah memberinya taubat dan menjadikannya lebih baik daripada orang yang pernah menghina dirinya.

Banyak kisah dalam sejarah Islam tentang orang-orang yang dulunya jauh dari agama lalu berubah menjadi ahli ibadah dan pejuang Islam. Semua itu terjadi karena hidayah Allah. Oleh sebab itu, tidak pantas bagi seorang Muslim merasa paling suci dan mudah merendahkan orang lain.

Selain itu, hadis ini juga mengajarkan keseimbangan dalam Islam. Agama ini tidak membiarkan kemaksiatan, tetapi juga tidak menghilangkan kasih sayang terhadap pelakunya. Hukuman tetap ditegakkan sebagai bentuk keadilan, namun hati tetap dipenuhi doa dan harapan agar pelaku dosa mau bertaubat.

Di era media sosial saat ini, pelajaran tentang mendoakan pelaku maksiat menjadi semakin penting. Banyak orang berlomba-lomba menghujat pelaku kesalahan di internet. Bahkan kadang seseorang dihina habis-habisan hanya karena satu kesalahan yang viral. Padahal belum tentu orang yang menghina lebih baik di hadapan Allah.

Islam mengajarkan adab yang berbeda. Ketika melihat kemaksiatan, seorang Muslim boleh membenci perbuatannya, tetapi tidak boleh kehilangan kasih sayang kepada manusia yang melakukannya. Sebab tujuan utama dakwah adalah menyelamatkan manusia, bukan sekadar mempermalukan mereka.

Karena itu, mulai sekarang biasakan lisan untuk mendoakan kebaikan bagi orang yang sedang terjatuh dalam dosa. Jika melihat seseorang melakukan maksiat, jangan langsung berkata kasar atau berharap kehancurannya. Bisa jadi doa yang tulus justru menjadi sebab Allah membuka pintu taubat baginya. []